Agar Petani Jagung di Jember Merdeka dari Utang Nyekek Leher
- Tim tvone - tim tvone
tvOnenews.com – Petani jagung di Jember memegang peran krusial sebagai jantung pertahanan pangan nasional.
Menjadi bagian dari lumbung pangan Jawa Timur—provinsi pemilik luas panen jagung terbesar di Indonesia—. Provinsi ini menempati urutan pertama secara nasional dengan luas panen yang mencapai sekitar 739.157 hektare dan menghasilkan produksi hingga 4,59 juta ton per tahunnya.
Sebagai perbandingan, wilayah penghasil jagung terbesar lainnya setelah Jawa Timur meliputi Jawa Tengah dengan luas panen 412.338 hektare, disusul oleh Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Pasokan jagung dari Jember secara konsisten menjadi bahan baku utama pakan ternak regional dan nasional.
Produktivitas lahan Jember yang tinggi tidak hanya menekan angka ketergantungan impor dan menstabilkan harga pakan lokal, melainkan juga menopang jutaan lapangan kerja sektor agrikultur di tanah air.
- tim tvOne
Angin segar berembus bagi ratusan petani jagung di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sebanyak 200 petani jagung di Desa Tempuran, Kecamatan Cakru, Kencong, resmi merapatkan barisan dan bergabung dalam program kemitraan budidaya strategis yang digagas oleh PT Mekar Asta Nusantara.
Sinergi besar ini resmi diketuk lewat agenda Sosialisasi Program Kemitraan Petani Jagung yang dimotori oleh Asosiasi Pertambangan Warga Nusantara (APWNU) bersama PT Mekar Asta Nusantara, sebuah perusahaan hasil kolaborasi taktis antara APWNU dengan PT Sampurna.
Langkah ini menjadi juru selamat bagi para petani lokal yang selama ini tercekik keterbatasan modal usaha dan terpaksa bergantung pada pembiayaan informal dari tengkulak dengan bunga selangit.
Melalui skema kemitraan ini, para petani bakal disuntik dukungan modal penuh berupa sarana produksi pertanian (saprotan) mulai dari benih unggul, pupuk, obat-obatan, hingga ongkos jasa tenaga tanam tanpa perlu agunan ataupun beban bunga sepeser pun.
Sistem pembayarannya pun sangat prorakyat, di mana petani baru melunasi seluruh biaya modal setelah masa panen rampung.
Pola ini membuat para petani bisa mengelola lahan mereka dengan tenang tanpa bayang-bayang kejaran utang berbunga.
- APWNU
Sekretaris Jenderal APWNU Joko Suprianto menegaskan bahwa program ini adalah bukti konkret keberpihakan nyata kepada kaum tani lewat pembangunan ekosistem agraria yang sehat, transparan, dan berkelanjutan.
Load more