Dulu Menembus Rimba, Kini Mengejar Cita-cita
- tvOnenews/Kadek Sugiarta
tvOnenews.com - Bagi sebagian siswa, ujian berbasis komputer dimulai ketika mereka duduk di depan layar dan mulai mengerjakan soal. Namun, bagi anak-anak di Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, perjuangan itu pernah dimulai jauh sebelum komputer dinyalakan.
Untuk mengikuti ujian sekaligus mendapatkan akses internet, mereka harus meninggalkan kampung dan menempuh perjalanan panjang kurang lebih 35 Kilometer melewati medan ekstrem di kawasan pedalaman sekitar Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
Perjalanan tersebut dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan motor ojek modifikasi khusus yang mampu melintasi jalur ekstrem. Pada musim kemarau, perjalanan memakan waktu sekitar 5 hingga 6 jam. Namun saat hujan turun, kondisi jalan berubah menjadi lumpur licin, sehingga waktu tempuh bisa membengkak hingga 7 sampai 8 jam.
Bukan hanya tenaga dan waktu yang terkuras, perjalanan tersebut juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk perjalanan pergi-pulang dari Pinogu menuju wilayah yang memiliki akses jaringan, warga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta.
Bagi sebagian keluarga, angka tersebut merupakan jumlah yang sangat besar. Namun, demi pendidikan dan kebutuhan koneksi internet, perjalanan tersebut tetap harus ditempuh.
Dulu, Ujian Harus Ditempuh dengan Perjalanan Panjang
Keterbatasan akses komunikasi membuat kegiatan pendidikan di Pinogu menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan daerah lain. Ketika sekolah harus melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), siswa tidak selalu dapat mengerjakannya langsung dari sekolah.
Guru dan siswa harus turun ke wilayah yang memiliki jaringan internet. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan harus menginap di luar kampung selama beberapa hari.
“Dulu kalau ada kegiatan ujian atau ANBK, kita harus turun ke bawah untuk mencari jaringan. Anak-anak harus menempuh perjalanan jauh,” ujar Sridelvioniki Abas, salah seorang guru SD Negeri 2 Pinogu.
Bagi para siswa, perjalanan tersebut bukan sekadar persoalan jarak. Ada jalan yang sulit dilalui, medan berlumpur yang harus diterjang, serta biaya transportasi yang harus disiapkan oleh keluarga. Semua itu dilakukan agar mereka tetap dapat mengikuti proses pendidikan sebagaimana siswa di wilayah lainnya.
Load more