Naluri Berdagang Menyelamatkan Pesmi Ermi dari Stres Pascabencana
- tim tvOne/Antara
Berdagang bukanlah sesuatu yang baru bagi Pesmi dan suaminya yang bernama Suparmanto. Pasangan suami istri ini sudah berdagang sejak bertahun-tahun. Kini, aktivitas itu kembali ia mulai dari nol, dengan menjual berbagai kebutuhan harian, seperti makanan ringan, gas elpiji, umbi-umbian, lele asap, minuman kaleng, kacang-kacangan, dan lain sebagainya.
"Sebenarnya, awal berdagang di huntara untuk menghilangkan stres, tapi saya sadar, ini juga demi membiayai pendidikan anak," ujarnya.
Untuk modal awal, Pesmi memanfaatkan tabungan dan sejumlah uang yang dikirimkan oleh kerabatnya dari Tanah Jawa. Meski jual belinya tidak sebesar sebelum dilanda bencana, namun pundi-pundi rupiah itu sudah menjadi penyemangat untuk berani bangkit.
Di awal-awal berdagang, ia bersama suami pergi ke daerah Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, untuk membeli mesin kukur kelapa. Hal ini mengingat belum ada satupun warga yang menjual kelapa parut untuk kebutuhan selama di huntara.
Selain untuk mengisi kesibukan harian, berdagang juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus membiayai anaknya yang kini masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Padang.
Pesmi paham betul, jika hanya mengharapkan bantuan dari orang lain atau pemerintah saja, maka cita-citanya menjadikan anaknya orang yang sukses tidak akan pernah terwujud.
Tak hanya bersemangat berdagang, perempuan berdarah Minangkabau ini juga antusias menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah. Bahkan, ia bersama suami menyempatkan diri menonton Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama pada Selasa (18/2) malam lewat televisi.
Ia merasa gembira menyambut Ramadhan, meskipun sama sekali tidak pernah menyangka akan melaksanakan puasa 2026 di huntara, sekaligus tanpa anak perempuannya yang turut menjadi korban banjir bandang.
"Mungkin ini ujian dari Allah, kami harus sabar dan kuat menghadapinya," ujar dia.
Senada dengan Pesmi, Evi, pedagang, sekaligus penghuni huntara 05 SD Negeri Kayu Pasak, mengaku sudah berjualan sejak 10 hari terakhir. Ia bersama suaminya memberanikan diri membuka tabungan Rp6 juta hingga Rp7 juta, sebagai modal awal berdagang.
Load more