Ritual Adat Pangku Paliare, Tradisi Suku Semende di Bengkulu Mensensus Jumlah Penduduk
- tim tvOne/Miko
Bengkulu, tvOnenews.com - Tradisi unik dan menarik dilaksnakan masyarakat adat Suku Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur, Bengkulu setiap 10 Muharam. Kampung yang biasanya sepi karena warga bekerja di kebun, ladang dan sawah jelang 10 Muharam mendadak ramai.Â
Dari permukiman asap mengepul masing-masing rumah sedang menyiapkan panganan ketan yang dibakar dengan menggunakan bambu muda atau lemang.
Bulan Muharam, tepatnya pada hari ke 10 bagi masyarakat Suku Semende Ulu Nasal sangat istimewa. Mereka menggelar ritual adat Pangku Paliare, salah satu syarat wajib harus ada lemang. Inilah menariknya dari tradisi adar ini dimana dalam momen ini, perangkat desa mengelar sensus penduduk dengan perhitungan lemang.
"Jadi jumlah lemang dikumpulkan lalu kami hitung untuk mengetahui jumlah jiwa warga setiap tahun. Jadi semacam sensus yang diwariskan nenek moyang kami sejak tahun 1800," ujar Anshori, Kepala Desa Ulu Nasal, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.
Penghitungan jumlah penduduk dengan lemang tiap tahun merupakan salah satu agenda Tradisi Pangku Paliare. Tahun ini jumlah lemang terkumpul mencapai 926 batang lemang, artinya jumlah jiwa mereka saat ini sama dengan jumlah lemang terkumpul.
Pangku Paliare dalam terjemahan bebas memiliki makna, memangku dan memelihara tata laku, adat istiadat, budaya, hingga garis keturunan dari lahir komunitas adat.
Bagi masyarakat Adat Ulu Nasal, ritual Pangku Paliare menjadi tradisi yang saat ini terus dipertahankan dalam tata cara menjaga keseimbangan alam dan spiritual mereka baik dengan Tuhan hingga nasab keturunan dari nenek moyang yang terwarisi sejak ratusan tahun.
"Jika ritual ini tidak dilaksanakan, kami percaya akan datang berbagai bala seperti hewan buas masuk ke pemukiman warga, adanya warga yang hanyut terbawa arus, dan bencana alam seperti banjir dan longsor," beber Ansori.
Ritual ini dimulakan, dengan lemang dikumpulkan kemudian akan dhitung, lemang dihidangkan pada para tamu dan seluruh warga dilakukan makan bersama.
Lemang beragam rasa itu semakin nikmat ketika disiapkan kuah kince, terbuat dari santan dicampur durian apabila musim durian bertepatan dengan 10 Muharam.
"Sembari menikmati lemang yang dicocol kuah kince, maka hadirin akan menikmati hiburan seperti tari adat, tari kreasi, alunan musik gambus, serta rejung bertutur atau semacam nasihat bertutur yang diiringu musik gambus," sambungnya.
Lanjutan kegiatan ini, seluruh warga akan mendengarkan sejarah terciptanya alam semesta oleh Tuhan lalu lahirlah para leluhur mereka atau Malim (ketua adat), satu per satu nama-nama Malim disebut sejak suku merrkat terlahir hingga nasab Malim terakhir saat ini.
"Nasab Malaim atau tetua adat kami tersusun rapi dan saling bersambungan hingga sekarang Malim terakhir bernama Nenek Kuyin," pungkasnya.
Agenda ritual berikutnya, Malim saat ini, atau Nenek Kuyin, memimpin doa-doa disertai simbol seserahan empat ekor ayam panggang. Masing-masing memiliki makna dan warna berbeda.Â
Suasana khidmat semakin terasa saat pesan dan nasihat adat berisikan nasihat tentang kebajikan, hidup rukun, dan menjaga alam sekitar. Terakhir acara ditutup dengan pembagian air berisi limau, bunga, air tersebut didoakan lalu dibagikan pada seluruh warga.
"Kami meyakini air yang sudah didoakan ini akan membawa kedamaian, membawa berkah, dijauhkan dari gangguan jin dan setan, diberi kesehatan dan kemakmuran," ujar Usman salah seorang warga.
Pangku Paliare bukan sekadar ritual adat. Tradisi ini jadi pengingat untuk selalu menjaga keseimbangan, saling menghormati, dan terus bersyukur atas anugerah hidup di bumi pertiwi.
Acara tahunan itu berjalan sederhana tepat tengah hari semua prosesi selesai, para warga pulang membawa lemang, ayam panggang, air yang sudah didoakan. Wajah ceria terpancar dari warga yang meyakini kebaikan akan selalu menemani setelah ritual adat digelar. (Rgo/wna)
Load more