Cara Alami Pulihkan Lahan Gambut Akibat Karhutla, BPGMN: Satu Rumpun Bambu Simpan 5.000 Liter Air
- HO-BPGMN
tvOnenews.com, Sumatera Selatan – Pemulihan ekosistem gambut akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tak sekadar berfokus pada penghentian kobaran api.
Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) bersama Komunitas Pemuda Ekonomi Hijau Indonesia (KPEHI) resmi menguji coba strategi pemulihan alami berbasis tumpang sari tanaman bambu dan jelutung di Kelurahan Kedaton, Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Jumat (30/10/2026).
Kepala BPGMN Prof. Satyawan Pudyatmoko menegaskan bahwa kawasan demplot plasma di OKI menjadi bukti sukses restorasi vegetasi lahan yang dulunya terbakar berulang pada periode 1997 dan 2006, yang kini sukses ditumbuhi 30 spesies pohon.
“Restorasi ekosistem gambut bisa dilakukan dengan sangat baik, seperti yang dicontohkan di Kabupaten OKI, Sumatera Selatan. Model ini nantinya akan kita replikasi di beberapa tempat,” terang Satyawan.
- Istimewa
Mengingat Sumsel menguasai sekitar 10 persen dari total lahan gambut Indonesia, BPGMN menekankan pentingnya keterlibatan kolaboratif antara pemerintah daerah, TNI-Polri, hingga warga desa penyangga untuk menekan risiko karhutla seminimal mungkin melalui pemberdayaan ekonomi.
Inovasi Nature-Based Solution: Jelutung Punya Nilai Jual, Bambu Simpan 5.000 Liter Air
Dalam proyek uji coba ini, tanaman jelutung dipilih karena mampu tumbuh subur di lahan basah tanpa pengeringan serta menghasilkan getah bernilai jual tinggi. Sementara itu, bambu diposisikan sebagai tanaman benteng mitigasi bencana.
Ketua Umum KPEHI Agi Diantoro membeberkan bahwa bambu merupakan solusi berbasis alam (nature-based solution) yang sangat efektif menjaga kadar air tanah gambut.
“Satu rumpun bambu dapat menyimpan air hingga sekitar 5.000 liter. Akarnya juga membantu menjaga kelembapan tanah gambut. Ini menjadi salah satu bentuk mitigasi awal yang ingin kami kembangkan,” ungkap Agi.
- Istimewa
Hilirisasi Mebel dan Target Pengembangan 100 Hektare
Gagasan ini telah dipaparkan secara langsung kepada Wakil Kepala BPGMN Mayjen TNI Sriyanto M.I.R. guna mengawinkan agenda mitigasi kebakaran dengan pengembangan industri hilir berbasis ekonomi kerakyatan.
KPEHI telah menyiapkan jaringan industri mebel binaan untuk menampung hasil panen bambu yang diolah menjadi produk furnitur, lantai (flooring), hingga hiasan interior.
Tahap Awal: Penanaman dilakukan pada demplot seluas 1 hektare dengan 300 bibit bambu.
Target Ekspansi: Lahan penanaman akan diperluas hingga mencapai 100 hektare.
Masa Panen: Bambu dapat dipanen dalam kurun waktu sekitar 3,5 tahun.
Melalui sinergi ini, warga desa penyangga tidak hanya bertindak sebagai penjaga kelestarian gambut, melainkan juga memetik hasil ekonomi langsung dari program restorasi lingkungan berkelanjutan.
Load more