Manisnya Cuan Kue Keranjang Khas Kampung Tukangan Yogyakarta
- Tim TvOne - Nuryanto
Yogyakarta, tvOnenews.com - Semarak menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026 mulai terasa kental di Kota Yogyakarta. Salah satu titik kesibukan terlihat di kawasan Kampung Tukangan, di mana perajin kue keranjang legendaris mulai "kebanjiran" pesanan.
Demi menjaga cita rasa dan tekstur yang ideal, proses pembuatan makanan khas ini pun masih dipertahankan secara tradisional turun-temurun.
Menjelang perayaan Imlek 2577 Kongzili, para pembuat kue keranjang di Yogyakarta mulai meningkatkan kapasitas produksi. Di Kampung Tukangan, seorang perajin bahkan harus mengolah hingga satu ton beras ketan demi memenuhi permintaan pelanggan yang membludak.
Kesibukan ini sudah tampak sejak pagi hari di sebuah toko kue keranjang legendaris yang kini dikelola oleh generasi ketiga. Sejumlah karyawan terlihat cekatan bergelut dengan adonan tepung ketan dan cairan gula untuk dicetak menjadi kue keranjang atau yang dikenal dengan nama Nian Gao.
Keunikan kue keranjang dari Kampung Tukangan ini terletak pada proses pembuatannya yang masih sangat tradisional. Adonan harus dikukus selama sembilan jam menggunakan kompor minyak tanah. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat kematangan yang sempurna serta tekstur yang stabil.
Setelah proses pengukusan selesai, kue tidak bisa langsung dikemas. Kue harus didiamkan selama satu hari satu malam agar teksturnya benar-benar set sebelum siap dipasarkan.
Sulistyowati, sang pemilik usaha, mengaku tetap teguh mempertahankan resep original tanpa menggunakan bahan pewarna maupun pemanis buatan. Untuk tahun ini, ia mematok harga Rp55.000 per kilogram.
"Kami tetap menggunakan cara lama dan bahan alami supaya rasa otentiknya tidak hilang. Tahun ini kami siapkan satu ton beras ketan karena pesanan memang meningkat dibanding hari biasa," ujar Sulistyowati.
Ia menjelaskan bahwa bagi masyarakat Tionghoa, kue keranjang bukan sekadar kudapan manis di atas meja. Setiap elemennya memiliki filosofi mendalam di antaranya Bentuk Bulat yang merupakan Simbol pemersatu keluarga. Kemudian tekstur lengket sebagai simbol perekat hubungan antar sesama.
"Sedangkan rasa manis adalah simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru," ungkapnya.
Load more