Komunitas Onthelis Padati Benteng Vredeburg Yogyakarta dalam Rakernas KOSTI dan Ajang Nostalgia
- Istimewa
tvOnenews.com - Kawasan bersejarah Benteng Vredeburg, Yogyakarta, mendadak berubah menjadi lautan sepeda tua pada akhir pekan. Ribuan pencinta sepeda onthel dari berbagai penjuru tanah air berkumpul untuk menghadiri dua agenda besar sekaligus, yakni Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) serta ajang gowes nostalgia bertajuk "Ngonthel Wisata Museum dan Koes Plus-an".
Rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (16–17 Mei 2026), sukses menyedot perhatian wisatawan dan warga lokal yang memadati pusat Kota Gudeg.
Kemeriahan dimulai sejak Sabtu (16/5/2026) dengan digelarnya Rakernas & Pengukuhan DPP KOSTI (Dewan Pimpinan Pusat Komunitas Sepeda Tua Indonesia). Berpusat di dalam kompleks Benteng Vredeburg, agenda ini menjadi momentum krusial bagi organisasi onthelis terbesar di Indonesia tersebut untuk merumuskan program kerja strategis ke depan, sekaligus memperkuat komitmen dalam melestarikan warisan sejarah berupa sepeda tua.
Prosesi pengukuhan jajaran pengurus baru DPP KOSTI berlangsung khidmat di tengah atmosfer benteng kolonial yang megah, menegaskan kembali semboyan mereka: "Sepeda Tua Sahabat Wisata Nusantara".
Puncak kemeriahan pecah pada Minggu pagi (17/5/2026). Sejak pukul 06.00 WIB, halaman Benteng Vredeburg telah dipadati oleh para peserta gowes yang kompak mengenakan busana jadul (zaman dulu), mulai dari pakaian ala pejuang kemerdekaan, pakaian adat, hingga gaya retro era 70-an.
Suasana di Benteng Vredeburg, di kawasan Malioboro, Kota Yogtakarta pada Minggu (17/5/26) pagi terasa berbeda dari biasanya. Bunyi bel sepeda klasik nan khas, "kring-kring-kring", terdengar begitu nyaring dan saling bersahutan di antara deru mesin beragam kendaraan modern.
Para pesepeda dengan kostum unik, mulai dari baju adat hingga seragam ala pejuang tempo dulu, tampak bersiap mengayuh pedal besi tua mereka.
Yogyakarta pun kembali membuktikan tajinya sebagai kota ramah bersepeda sekaligus tuan rumah yang hangat bagi para pegiat budaya dan sejarah.
Ya, akhir pekan ini, Kota Pelajar didapuk jadi pusat perhatian seiring dilangsungkannya Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Pengukuhan DPP Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) periode 2025-2029.
Sebagai "bonus" dari agenda formal tersebut, ratusan onthelis dari berbagai penjuru nusantara tumpah ruah dalam gelaran ngonthel bareng (ngobar) menyusuri Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Rute yang dilewati pun tak main-main, start dari Benteng Vredeburg, menyusuri Jalan Panembahan Senopati menuju Tugu Pal Putih, lalu membelah keramaian Malioboro sebelum kembali ke garis finis.
Ketua Umum KOSTI, Purnomo, menuturkan, meski agenda utama adalah Rakernas, namun magnet Yogyakarta tak bisa ditolak oleh para anggota dari 20 provinsi di Indonesia.
"Sebetulnya acara hari ini hanya bonus. Teman-teman dari daerah bilang, mumpung di Yogya, kenapa tidak keliling pakai sepeda? Akhirnya kita akomodir," ujarnya.
Tak hanya sekadar berkeliling mengitari titik-titik ikonik Yogyakarta, Purnomo membawa misi besar dalam kepengurusan periode keduanya ini.
Dengan jumlah anggota yang diperkirakan mencapai 40 ribu orang di seluruh Indonesia, ia ingin menghapus stigma bahwa sepeda tua hanya milik kaum sepuh.
"Kita punya program 'Onthel Masuk Kampus' dan 'Onthel Masuk Sekolah'. Di beberapa daerah seperti Jember dan Probolinggo itu sudah jalan," katanya.
"Jadi memang kalau memang sampeyan mungkin teliti ya, jenengan-jenengan teliti, tidak hanya orang tua sebenarnya yang ikut ngonthel," tambah Purnomo.
Di antara sepeda yang ditunggangi, terdapat koleksi yang diproduksi di bawah tahun 1900, meski mayoritas yang digunakan adalah keluaran tahun 1930 - 1950an.
Mulai dari tipe Heren (laki-laki) hingga Dames (perempuan), serta jenis langka seperti sepeda tandem versi lama dan BSA Airborne yang dulunya merupakan sepeda perang.
Sontak, kegiatan ini pun mendapat apresiasi dari Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) yang menghadiri langsung rangkaian Rakernas.
Risqi Amrulloh, Koordinator Olahraga Tradisional dan Kreasi Budaya KORMI, menyebut KOSTI sebagai salah satu induk organisasi yang paling aktif memberikan aura positif bagi masyarakat.
"Kalau kita lihat pawai KOSTI, kita ikut senang. Aura positifnya tidak hanya dirasakan yang mengayuh saja, tapi juga warga yang menonton. Ini bagian dari menjaga budaya sekaligus menyehatkan masyarakat tanpa batasan usia," terangnya.
Event kolaborasi antara Rakernas KOSTI dan Ngonthel Wisata Museum ini membuktikan bahwa komunitas hobi mampu memberikan dampak masif bagi sektor pariwisata daerah. Tingkat hunian hotel, pelaku UMKM, hingga penyewaan transportasi di sekitar kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer dilaporkan mengalami lonjakan signifikan sepanjang akhir pekan ini.
Bagi Anda yang melewatkan momen ini, atmosfer klasik dan gemerincing bel sepeda tua khas para onthelis di Benteng Vredeburg dipastikan akan menjadi salah satu catatan peristiwa budaya paling ikonik di Yogyakarta sepanjang tahun 2026.(chm)
Load more