Strategi Industri Minuman Kemasan Bertahan dan Tumbuh di 2026
- ANTARA/HO-ASRIM
tvOnenews.com - Tekanan terhadap industri makanan dan minuman nasional semakin terasa sepanjang 2026. Selain menghadapi pelemahan daya beli masyarakat, pelaku usaha kini dibayangi kenaikan biaya produksi yang terus meningkat akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku dan kemasan impor.
Ketika nilai tukar rupiah berfluktuasi, biaya pengadaan bahan produksi otomatis ikut terkerek, sehingga margin usaha semakin tertekan.
Situasi ini menjadi tantangan serius bagi industri minuman kemasan yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak sektor manufaktur nasional.
Banyak perusahaan harus mencari cara agar tetap kompetitif tanpa membebani konsumen dengan kenaikan harga yang terlalu tinggi. Di sisi lain, kebutuhan untuk menjaga investasi dan mempertahankan tenaga kerja juga menjadi prioritas.
Sejumlah pengamat menilai solusi jangka panjang yang perlu ditempuh adalah memperkuat rantai pasok domestik.
Pengembangan industri bahan baku lokal, percepatan hilirisasi, hingga peningkatan penggunaan kemasan produksi dalam negeri dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor. Langkah tersebut sekaligus membuat industri lebih tahan menghadapi gejolak kurs dan ketidakpastian ekonomi global.
Industri Minuman Kemasan Tetap Jadi Penopang Manufaktur
Di tengah berbagai tekanan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, industri makanan dan minuman, khususnya sektor minuman kemasan, masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Sektor ini tetap menjadi salah satu pilar utama manufaktur sekaligus penopang konsumsi domestik Indonesia.
Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia yang mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan I-2026.
Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan porsi 19,07 persen.
Dari angka tersebut, subsektor makanan dan minuman memberikan kontribusi sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional, menegaskan posisinya sebagai penggerak utama aktivitas manufaktur di Tanah Air.
Meski demikian, Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak mengingatkan bahwa kualitas pertumbuhan industri masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan, terutama terkait kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
"Momentum Ramadan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain; pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per dolar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri," ujarnya, melansir dari Antara, Sabtu (06/06/26).
Ketergantungan Impor Jadi Tantangan Besar
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, menilai industri belum sepenuhnya kembali ke kondisi ideal meskipun masih mencatat pertumbuhan positif.
Menurutnya, industri makanan dan minuman sepanjang 2025 tumbuh sebesar 6,38 persen. Namun angka tersebut masih berada di bawah capaian sebelum pandemi yang dapat mencapai kisaran 7 hingga 9 persen.
"ASRIM menilai bahwa meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen. Pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7–9 persen. Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadan-Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat," terang Triyono.
Di sisi lain, kenaikan biaya produksi menjadi persoalan yang semakin kompleks. Ketergantungan pada bahan baku dan kemasan impor membuat pelaku usaha sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Ketika rupiah melemah, biaya produksi langsung meningkat dan berpotensi menekan profitabilitas perusahaan.
Kondisi tersebut juga diperkuat oleh data inflasi April 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 2,42 persen.
Penguatan Bahan Baku Lokal Jadi Solusi Jangka Panjang
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim usaha manufaktur tetap kondusif.
Perwakilan Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor utama terhadap perekonomian nasional dengan porsi sekitar 19 persen terhadap PDB pada triwulan I-2026.
"Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh. Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor mamin. Kami juga akan terus memperkuat sinergi bersama pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja di tengah dinamika ekonomi global," ungkapnya.
ASRIM menyambut positif langkah pemerintah tersebut. Organisasi ini berharap kebijakan yang diterapkan ke depan mampu mendukung daya saing industri tanpa menambah beban baru bagi pelaku usaha.
Triyono menegaskan bahwa peluang pertumbuhan industri minuman kemasan masih terbuka lebar. Namun, dibutuhkan penguatan yang berkelanjutan melalui pengembangan bahan baku domestik, kepastian regulasi, dan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dengan keberlangsungan usaha.
"Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha. ASRIM mengedepankan dialog konstruktif bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi berbagai kebijakan industri, termasuk cukai dan bea masuk, demi menjaga stabilitas industri, keberlanjutan investasi, dan perlindungan tenaga kerja nasional," pungkasnya.
Dengan penguatan rantai pasok dalam negeri, hilirisasi yang berkelanjutan, serta sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha, industri minuman kemasan dinilai memiliki peluang besar untuk tetap tumbuh sekaligus meningkatkan ketahanannya menghadapi tekanan ekonomi global pada masa mendatang. (udn)
Load more