Mahasiswa UGM Berdayakan Warga Banyuwangi Sulap Sabut Kelapa Jadi Briket
- tim tvOne - Andri Prasetiyo
Yogyakarta - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berinovasi mengembangkan produk briket dari sabut kelapa. Mereka memberdayakan masyarakat Dusun Plembangrejo, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dalam program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM).
Kormasit KKN-PPM Wonosobo, Layla Oktavia mengatakan bahwa ide awal pembuatan briket ini berasal dari banyaknya limbah sabut kelapa yang dibuang begitu saja. Padahal, sabut kelapa dapat diolah menjadi briket pengganti arang yang bernilai ekonomis.
"Dari warga mungkin serabut kelapanya cuma dibuang begitu saja, jadi tidak dimanfaatkan. Jadi, kita memanfaatkan buat ngasih tahu ke warga bahwa sebenarnya serabut kelapa ini bisa dipakai yang lebih bermanfaat gitu. Bisa juga dijadikan briket seperti itu buat pengganti arang juga," ungkapnya dikutip dari siaran pers, Minggu (2/8/2026).
Layla menjelaskan bahwa briket yang dibuatnya berbeda dari briket kayu. Briket sabut kelapa lebih seragam bentuknya, menyerupai kubus kecil karena dibuat menggunakan cetakan.
Proses pembuatannya dengan cara dibakar hingga menjadi arang. Kemudian, arang tersebut dikikis hingga menjadi serbuk hitam.
Setelah itu, serbuk hitam diberi campuran bahan tepung kanji dan sedikit air sebagai perekat. Setelah tercampur, bahan tersebut dicetak menggunakan pipa besi berbentuk kubus kecil.
Layla menyebut proses pembuatan briket dari sabut kelapa lebih cepat dan mudah dibanding kayu atau tempurung kelapa karena serabut yang sudah kering lebih cepat terbakar untuk menghasilkan abu.
"Kalau tempurung kelapa itu mungkin kalau dibakar malah lebih lama jadi abunya. Kalau serabut kan apalagi serabut yang sudah kering, malah lebih cepat jadi abunya," terangnya.
Semi Hartati (54), salah seorang warga Dusun Plembangrejo, Desa Wonosobo mengaku mendapat pengetahuan baru terkait pembuatan briket dari sabut kelapa. Menurutnya, inovasi tersebut bisa menjadi alternatif sumber bahan bakar untuk memasak, selain gas LPG dan arang.
"Kan enggak sulit buatnya. Jadi, ya bisa untuk gantinya arang," ucapnya.
Selain pembuatan briket sabut kelapa, mahasiswa KKN-PPM UGM juga melakukan pengabdian berupa pemasangan 8 titik lampu tenaga surya untuk penerangan jalan umum di Desa Wonosobo dan Rejoagung. Mahasiswa UGM lainnya juga mengadakan pelatihan membatik dengan teknik ciprat bagi penyandang disabilitas dan membuat olahan abon serta kue brownis dari ikan lele di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Ada juga penanaman mangrove serta kelapa genjah di Pantai Kalitopo, Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo, sedangkan di Pantai Bimo, mahasiswa KKN-PPM UGM melakukan aksi bersih-bersih sampah. Sampah yang terkumpul dibakar dalam incinerator buatan mahasiswa.
Dosen pembimbing lapangan (DPL) KKN-PPM UGM di Kecamatan Wongsorejo, Siti Muti'ah Setiawati menegaskan bahwa program KKN-PPM UGM tidak hanya untuk mengejar nilai kuliah mahasiswa, tetapi juga salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat.
"Mahasiswa saya ini tidak sekadar mengejar nilai, tapi juga betul-betul sesuai dengan janji mahasiswa UGM untuk mengabdi kepada universitas, bangsa, dan negara," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Rustamaji mengungkap bahwa ada sekitar 8.178 mahasiswa yang mengikuti program KKN-PPM periode antarsemester ini. Mereka tersebar di 32 provinsi yang ada di Indonesia.
"Sebagian besar tema kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa mengusung program ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim," pungkasnya. (Scp/Ard)
Load more