Saat Ampas Kopi Berhenti Menjadi Sampah dan Mulai Menjadi Moralitas Baru
- Antara
Namun kesuksesan tersebut, kata Andika, juga menyisakan "sisi gelap" yang tak kasat mata: akumulasi limbah padat yang menembus angka 0,8 hingga 1,5 ton per tahun. Setiap harinya, aktivitas produksi menghasilkan 2–4 kg ampas kopi basah dan sekitar 2–3% biji  quaker  (biji cacat atau tidak matang) dari total proses sangrai.Â
Masalah ini jauh melampaui isu teknis manajemen sampah; yaitu isu etika lingkungan yang mendalam. Penumpukan residu organik ini, jika dibiarkan tanpa pengelolaan sistematis, menjadi "bom waktu" ekologis. Pembuangan limbah secara sembarangan memicu dekomposisi anaerobik yang melepaskan emisi gas metana—salah satu pemicu utama pemanasan global yang jauh lebih kuat dari karbon dioksida.
"Fenomena ini memperlihatkan adanya pemisahan aktivitas ekonomi dengan kesadaran terhadap alam, di mana pertumbuhan bisnis seolah terputus dari tanggung jawab etis terhadap ekosistem lokal," jelas Andika.
Salah satu anggota tim, Danang Prasetyo menjelaskan guna menjembatani kesenjangan tersebut, tim pengabdian mengintervensi lini produksi Koke dengan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG)  tingkat industri. Kegiatan ini didanai oleh  Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi  melalui skema Pengabdian Masyarakat Pemula 2026  dalam ruang lingkup  Sosial Humaniora dengan dana Rp 21.030.000.
"Intervensi yang dilakukan bukan sekadar penambahan alat, melainkan perubahan radikal pada "sistem operasi" bisnis melalui  SOP Zero Waste," jelas Danang.
Sementara, Yarmanto menjelaskan sebanyak empat perangkat utama diintegrasikan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dari residu yang sebelumnya terbuang: Mesin Press Briket, Mesin Oil Press, Oven Listrik, Alat Press Botol. Ampas bubuk kopi dikonversi menjadi briket/kamper, sedangkan quaker kopi dikonversi menjadi minyak yang dapat dipasarkan kembali. Transformasi yang dilakukan tidak digerakkan oleh mesin semata, melainkan oleh sinergi kepakaran di balik layarnya.
"Program pengabdian masyarakat ini adalah manifestasi nyata dari  Eco-Literacy  dan  Ecologycal Citizenship," ungkap Yarmanto.
Yudhi Prasetyo, Founder Koke mengatakan dengan mengubah limbah kopi menjadi  value-added products  seperti briket/kamper dan bibit pewangi, harapannya Koke kini berdiri sebagai model percontohan nasional.
Load more