Marak Terjadi Perundungan, Siswa Didorong Lebih Peka Hadapi Bullying dan Cyberbullying di Era Digital
- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Sementara itu, Mahya, siswi kelas X Tata Busana mengaku mendapatkan pengalaman baru dari penerapan SIKOMHATI.ID. Menurutnya, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai bullying dan cyberbullying, tetapi juga mengenal sarana yang dapat digunakan ketika menghadapi persoalan di sekolah.
Fitur yang memungkinkan siswa menyampaikan masalah kepada guru Bimbingan dan Konseling juga dinilai mudah dipahami.
Salah satu bagian dari materi Komunikasi Hati adalah mengajak siswa mengenali kondisi emosional dalam diri yang disebut sebagai “sampah hati”, seperti iri, benci, dendam, dan ego.
Pengenalan terhadap emosi tersebut diarahkan agar siswa mampu memahami kondisi dirinya sebelum mengambil tindakan atau memberikan respons kepada orang lain.
“Mari ubah sampah hati menjadi energi yang memberi semangat kepada diri untuk lebih berprestasi,” ajak Prof. Dr. Puji Lestari, dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta sekaligus pencipta prototipe SIKOMHATI.ID saat menjelaskan konsep tersebut kepada siswa.
Pendekatan ini menempatkan pengelolaan emosi dan empati sebagai bagian dari kemampuan komunikasi, bukan sekadar persoalan menyampaikan pesan dengan baik.
Program selanjutnya dilakukan melalui pendampingan literasi. Siswa diharapkan tidak hanya memahami materi, tetapi juga membiasakan diri melakukan refleksi, mengolah pikiran dan perasaan, membangun empati, serta berani menyampaikan persoalan ketika menghadapi bullying.
Pada akhir rangkaian literasi, siswa akan memperoleh sertifikat capaian kompetensi Komunikasi Hati berdasarkan level Tahu, Tanggap, atau Tangguh. (Scp/Ard)
Load more