BRIN Perkuat Pengembangan Teknologi Nuklir, Anggaran 2027 Difokuskan untuk Energi, Pangan, dan Kesehatan
- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Sejalan dengan arah pengembangan teknologi nuklir nasional, Poltek Nuklir melakukan penyesuaian pendidikan dan kurikulum agar lulusannya memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Plt. Direktur Poltek Nuklir Dr. Eng. Zainal Arief mengatakan penyesuaian dilakukan melalui pengembangan sejumlah bidang peminatan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan ketenaganukliran di masa depan.
Peminatan tersebut mencakup energi, pemanfaatan industri untuk analisis dan radiasi, instrumentasi medik nuklir, teknologi akselerator, produksi radioisotop dan radiofarmaka, serta proses bahan bakar nuklir.
“Politeknik Nuklir terus beradaptasi dan melakukan penyesuaian untuk merespons berbagai perubahan, terutama terkait kompetensi yang wajib dimiliki oleh para lulusannya,” ujar Zainal.
Tak hanya memperkuat kemampuan teknis, Poltek Nuklir juga menerapkan pendekatan transformative learning. Melalui metode tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi diarahkan untuk bekerja dalam tim, berkomunikasi, mengidentifikasi persoalan, hingga menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata.
Salah satu implementasinya adalah proyek pembuatan prototipe alat peraga PLTN yang dikerjakan oleh mahasiswa. Prototipe tersebut direncanakan untuk dihibahkan kepada pemerintah daerah di DIY dan ditempatkan di Taman Pintar sebagai sarana edukasi masyarakat mengenai teknologi nuklir.
Keberadaan alat peraga tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya generasi muda, memahami prinsip kerja PLTN dan pemanfaatan teknologi nuklir secara lebih mudah.
“Melalui proyek ini, mahasiswa dilatih untuk mampu bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, serta memiliki kepekaan dalam melihat suatu permasalahan untuk kemudian dicarikan solusinya secara nyata,” kata Zainal.
Perubahan teknologi yang semakin cepat juga menjadi perhatian dalam penyiapan lulusan Poltek Nuklir. Arif mengingatkan bahwa kompetensi yang dimiliki seseorang saat ini belum tentu tetap relevan dalam beberapa tahun mendatang.
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menurutnya, akan turut mengubah kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis yang diperoleh selama masa pendidikan.
Kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan menjadi semakin penting. Arif menyebut konsep learning agility atau kemampuan belajar secara cepat sebagai salah satu modal utama yang harus dimiliki lulusan.
Load more