Direktorat Jenderal Perkebunan: Karhutla Tidak Bisa Langsung Dikaitkan dengan Pembukaan Perkebunan Kelapa Sawit
- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Saat ini, produktivitas sawit Indonesia disebut berada di angka sekitar 3,6 ton per hektare. Iim mengatakan, karhutla berpotensi menyebabkan produktivitas tersebut menurun, meskipun belum terdapat angka pasti mengenai besaran penurunannya.
"Kalau sudah petani ataupun perusahaan swasta itu pasti mereka menjaga bagaimana perkebunan itu jangan sampai terbakar," ujarnya.
Upaya pencegahan disebutnya tidak dapat hanya berfokus pada faktor manusia, namun juga kondisi alam dan iklim.
"Ini kan tidak hanya faktor manusianya, tapi faktor alam. Titik-titik api itu juga faktor alam," katanya.
Sementara itu, Kepala Divisi Penyaluran SDM Perkebunan, Sudi Bawa Suwita, mengatakan, faktor manusia tetap memiliki keterkaitan dengan persoalan kebakaran. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan industri sawit.
"Karenanya, pelatihan dilakukan bagi SDM sawit yang tidak hanya ditujukan agar petani mampu meningkatkan produksi, tetapi juga memahami aturan, legalitas, perlindungan lingkungan, dan prinsip keberlanjutan," jelas Sudi.
Salah satu materi yang diberikan dalam pelatihan adalah Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sudi menjelaskan bahwa ISPO mencakup sejumlah aspek, mulai dari kepatuhan terhadap hukum, perlindungan lingkungan, daya saing global, hingga kesejahteraan sosial.
"Kalau ada terkait kebakaran, sedikit banyak pasti ada faktor manusia juga di situ," tuturnya.
Ia menilai bahwa peningkatan pemahaman melalui pelatihan dapat membantu mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran pada masa mendatang.
"Dengan SDM yang semakin memahami aturan, termasuk mengenai pembukaan dan pengelolaan lahan, kepatuhan diharapkan ikut meningkat," jelasnya.
Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo mengatakan, pemahaman petani mengenai pengelolaan perkebunan juga terus diperkuat melalui berbagai pelatihan.
Salah satu materi yang diberikan adalah good agricultural practices atau praktik budidaya yang baik. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai risiko terkait legalitas lahan serta berbagai aturan dalam pengelolaan perkebunan.
Pranoto menegaskan bahwa pemahaman tersebut diperlukan agar petani tidak sekadar mengetahui suatu tindakan diperbolehkan atau dilarang, tetapi juga memahami alasan di balik ketentuan tersebut.
"Kalau kita bicara bahkan hujan ya, apa menjadi satu metode yang diajarkan, itu justru kemudian memberikan kepada teman-teman peserta untuk aware terkait dengan hal-hal seperti itu," katanya.
Load more