IHSG Turun 0,57 Persen ke Level 8.568 pada Sesi I, Saham Perbankan dan Global Sentimen Jadi Tekanan
- ANTARA
Sementara dari sisi global, pasar masih mencermati arah kebijakan bank sentral utama dunia, khususnya Bank of Japan (BoJ) dan dampak lanjutan dari data inflasi Amerika Serikat yang tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun The Federal Reserve telah memangkas suku bunga.
Pasar Global Siaga Menanti Keputusan Bank of Japan
Pasar global hari ini berada dalam mode wait and see, menantikan dua rilis data krusial dari Jepang yang dijadwalkan pada Jumat (19/12/2025). Fokus utama tertuju pada data Inflasi Nasional Jepang yang diproyeksikan naik ke level 3,0 persen secara tahunan (year on year).
Kenaikan inflasi tersebut didorong oleh lonjakan biaya energi dan impor, yang mulai menggerus daya beli riil masyarakat Jepang. Inflasi yang bertahan di level tinggi ini dinilai menjadi alasan kuat bagi Bank of Japan untuk mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter.
Sejalan dengan rilis inflasi, pasar memprediksi BoJ akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 0,75 persen dari posisi saat ini. Jika terealisasi, langkah ini akan menjadi keputusan bersejarah, menandai upaya agresif Jepang keluar dari rezim suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dampak Global: Yen dan Carry Trade
Keyakinan pasar terhadap kekuatan ekonomi Jepang juga diperkuat oleh data surplus neraca perdagangan yang baru dirilis, yakni sebesar 322,2 miliar yen. Surplus ini dinilai memberi ruang bagi BoJ untuk menahan dampak negatif dari kenaikan biaya pinjaman.
Bagi investor global, potensi kenaikan suku bunga Jepang berisiko memicu volatilitas nilai tukar yen serta memengaruhi arus modal global, khususnya strategi carry trade yang selama ini memanfaatkan suku bunga rendah di Jepang.
Dengan kombinasi tekanan domestik dan ketidakpastian global, pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap hati-hati hingga ada kejelasan arah kebijakan bank sentral dan stabilitas pasar global. (nsp)
Load more