Pasar Keuangan RI Kompak Melemah, IHSG Ambruk, Rupiah Tertekan, dan Imbal Hasil SBN Naik
- istimewa - antaranews
Jakarta, tvOnenews.com - Pasar keuangan Indonesia ditutup memburuk secara keseluruhan pada akhir pekan lalu. Tekanan terjadi serentak di pasar saham, nilai tukar rupiah, hingga pasar obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN), mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati investor di tengah dinamika global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (6/2/2026) dengan penurunan tajam 2% atau anjlok 168,62 poin ke level 7.935,26. Pelemahan ini disertai dominasi saham merah, dengan 673 saham turun, 118 saham menguat, dan 167 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat hanya Rp19,2 triliun, melibatkan 32,74 miliar saham dalam sekitar 2,2 juta kali transaksi. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata transaksi harian pada Januari yang sempat menembus Rp30 triliun. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor di tengah volatilitas pasar yang meningkat.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pun tergerus menjadi Rp14.341 triliun, seiring aksi jual yang kembali mendominasi perdagangan. Dari sisi sektoral, tekanan paling besar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip.
Mengutip data perdagangan, saham Bank Central Asia (BBCA) turun 1,6% ke level 7.675 dan memberikan kontribusi negatif sekitar 11,84 poin terhadap IHSG. Disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang menyumbang tekanan sekitar 11 poin, serta Astra International (ASII) yang menekan indeks sekitar 10,24 poin.
Pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan yang juga dialami pasar mata uang. Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah melemah 0,21% ke level Rp16.860/US$, melanjutkan penurunan pada sesi sebelumnya yang mencapai 0,36% ke Rp16.825/US$.
Level penutupan tersebut menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir atau sejak 22 Januari 2026. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp16.850 hingga Rp16.888 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang relatif konsisten sepanjang sesi.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tercatat menguat tipis 0,02% di level 97,845. Minat investor terhadap aset berdenominasi dolar meningkat seiring meningkatnya sikap risk-off di pasar global, terutama di tengah tekanan saham teknologi dan kekhawatiran terhadap belanja besar sektor kecerdasan buatan (AI).
Load more