Konflik AS-Venezuela Dinilai Minim Guncang Harga Minyak, Ancaman bagi Indonesia Rupiah Melemah
- ANTARA
“Jika kita lihat bahwa Indonesia itu akan kerja sama sebagai Trump New Deal dengan Indonesia, yang 19 persen itu, kemungkinan bahwa harga minyak itu ke depan itu akan idealnya itu harus murah. Jadi kita akan memperoleh BBM yang lebih murah, harganya menjadi lebih stabil,” katanya.
Meski demikian, Yayan mengingatkan adanya sisi risiko yang justru lebih besar bagi Indonesia. Ketika ekonomi Amerika Serikat membaik akibat harga energi murah, nilai tukar rupiah berpotensi tertekan.
“Ketika perekonomian Amerika Serikat itu membaik, nilai tukar Indonesia, khususnya rupiah itu terhadap Amerika Serikat itu akan semakin melemah,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurut Yayan, bisa membuat harga minyak impor tetap terasa mahal bagi Indonesia, meskipun harga global cenderung turun.
“Jadi bukan harga minyaknya yang turun, tapi nilai tukar uangnya,” tegasnya.
Untuk meredam risiko tersebut, Yayan menilai Indonesia perlu memperkuat fondasi energi domestik, salah satunya dengan mempercepat pengembangan kilang minyak nasional.
“Refinery road development program ataupun RDMP, yang dilakukan oleh pemerintah itu harus segera dieksekusi,” katanya.
Ia juga menjelaskan karakter minyak Indonesia yang relatif sejenis dengan minyak Amerika Serikat, sehingga secara harga tidak jauh berbeda.
“Karena minyak Indonesia dengan minyak Amerika Serikat tersebut dari benua Amerika, karena sama-sama daerah tropis, yang ada juga biomorpolinya sama, itu kita sama-sama low sulfur. Jadi harganya ya mirip-mirip lah,” jelasnya.
Berbeda dengan minyak Timur Tengah yang cenderung lebih murah karena karakter high sulfur, namun memiliki konsekuensi lingkungan yang lebih besar.
“Harga minyak dunia yang murah memang ideal, tapi kalau kinerja ekonomi domestik tidak dibenahi, nilai tukar rupiah bisa memburuk dan justru menaikkan beban impor energi,” pungkas Yayan.
Sebagai informasi, Amerika Serikat mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, yang kemudian dikeluarkan dari Venezuela.
Presiden AS Donald Trump mengklaim operasi tersebut berlangsung presisi tanpa korban dari pihak AS.
Pemerintah Venezuela merespons dengan menyatakan akan mengajukan banding ke organisasi internasional dan meminta Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat.
Load more