Free Float Masih Rendah, Saham-Saham Ini Dinilai Punya Prospek Bisnis Menjanjikan
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com – Regulator pasar modal Indonesia akan menaikkan batas minimum free float saham dari 7,5% menjadi 15%. Kebijakan ini berpotensi memicu berbagai aksi korporasi dari emiten yang belum memenuhi ketentuan tersebut, mulai dari right issue, stock split, hingga masuknya investor strategis.
Sebagai catatan, free float adalah porsi saham yang benar-benar beredar dan dapat diperdagangkan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam aturan saat ini, pemegang saham di bawah 5% masih masuk kategori free float, kecuali pihak yang berafiliasi dengan pengendali, manajemen, atau saham treasury. Celah ini selama ini dimanfaatkan sebagian investor institusi untuk menguasai saham beredar tanpa kewajiban pelaporan, sehingga rawan memicu volatilitas harga ketika likuiditas ritel semakin tipis.
Pengetatan free float juga menjadi sorotan global. MSCI sebelumnya meminta peningkatan transparansi data free float Indonesia, dengan tenggat Mei 2026. Jika tak ditindaklanjuti, pasar saham nasional berisiko turun klasifikasi dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Merespons hal itu, otoritas pasar modal bersama Self Regulatory Organization (SRO) menetapkan ambang batas free float baru sebesar 15%.
Langkah tersebut langsung memicu spekulasi pasar terkait strategi emiten untuk memenuhi ketentuan. Menjual saham langsung oleh pemegang mayoritas dinilai berisiko menekan harga saham, sehingga bukan opsi ideal. Opsi yang lebih masuk akal adalah:
-
Right issue tanpa diserap penuh pengendali, sehingga saham baru lebih banyak diserap publik
-
Stock split untuk menurunkan harga nominal saham agar lebih terjangkau investor ritel
-
Private placement dengan masuknya investor strategis jangka panjang
Jika dilakukan dengan tepat, peningkatan free float justru berpotensi mendorong harga saham karena adanya aliran dana baru dari investor ritel maupun institusi besar. Namun, tidak semua saham dengan free float rendah layak dilirik. Investor tetap perlu mempertimbangkan prospek bisnis riil, fundamental keuangan, valuasi, serta kekuatan grup usaha.
Berikut tiga saham dengan free float di bawah 15% yang dinilai memiliki prospek bisnis meyakinkan:
1. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)
PGEO saat ini memiliki free float sekitar 10,90%, masih terdapat gap hampir 5% untuk memenuhi ketentuan regulator terbaru. Untuk mencapainya, PGEO dinilai berpotensi menarik investor strategis, seiring rencana sejumlah institusi besar, termasuk manajer investasi nasional, meningkatkan eksposur di pasar saham domestik.
Dari sisi valuasi, saham PGEO masih relatif murah dengan price to book value (PBV) sekitar 1,39 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historis tiga tahunnya di 1,58 kali, dan jauh di bawah emiten energi terbarukan lain yang sudah diperdagangkan di level valuasi sangat tinggi.
PGEO juga masih memiliki sisa dana IPO sekitar Rp4 triliun untuk ekspansi bisnis, khususnya di sektor energi panas bumi. Pada Januari 2026, PGEO ditetapkan sebagai pemenang seleksi Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) wilayah panas bumi Cubadak Panti di Sumatera Barat, dengan potensi cadangan mencapai 77 MWe. Proyek ini memperkuat pipeline pertumbuhan jangka panjang PGEO di sektor energi bersih.
2. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
BRIS mencatat free float sekitar 9,91%, masih jauh di bawah ambang batas baru. Opsi paling realistis untuk meningkatkan free float adalah masuknya investor strategis, seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, atau lembaga investasi negara.
Momentum bisnis BRIS juga sedang menguat. Pada akhir Januari 2026, Bank Mandiri resmi melaporkan bahwa mereka tidak lagi mengonsolidasikan laporan keuangan BRIS, setelah hak Saham Seri A Dwiwarna pemerintah dialihkan kepada PT Danantara Asset Management sebagai pengelola investasi nasional. Dengan rampungnya proses tersebut, BRIS kini berstatus sebagai bank BUMN persero yang berdiri sendiri, setara dengan bank-bank besar nasional lainnya.
Posisi ini dinilai membuka ruang lebih besar bagi ekspansi bisnis syariah nasional, sekaligus meningkatkan daya tarik BRIS di mata investor institusi domestik maupun asing.
3. PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
ADMR memiliki free float sekitar 11,97%, dan dinilai berpotensi mencatatkan kinerja positif seiring transformasi bisnis ke sektor hilirisasi aluminium. Meski sempat terdampak volatilitas pasar, tren harga saham ADMR masih terjaga dalam jalur kenaikan jangka menengah.
Katalis utama ADMR berasal dari pembangunan smelter aluminium melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) di Kalimantan Utara, dengan target kapasitas penuh hingga 500.000 ton per tahun secara bertahap. Proyek ini didukung pasokan alumina dari PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), sehingga rantai pasok terintegrasi dan efisien.
Mulai 2027, permintaan global terhadap aluminium hijau diproyeksikan meningkat seiring pertumbuhan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan. Dengan keunggulan biaya melalui pasokan energi internal dan rencana transisi ke sumber energi hidro, ADMR berpotensi menjadi salah satu produsen aluminium berbiaya rendah di Indonesia.
Kenaikan batas minimum free float menjadi 15% memang akan memaksa sejumlah emiten melakukan penyesuaian struktur kepemilikan. Namun, bagi investor, perubahan ini juga membuka peluang pada saham-saham dengan likuiditas rendah namun memiliki fundamental solid dan prospek bisnis jangka panjang yang jelas. (nsp)
Load more