Saham Bank Himbara Tertekan hingga Tengah Hari saat IHSG Ambruk di Awal Pekan
- Bank Mandiri
Dari sisi valuasi, saham-saham Himbara juga dinilai relatif menarik dibandingkan historisnya. Hingga perdagangan Senin siang, price to earnings ratio (PER) BMRI berada di kisaran 8,66 kali, BBNI sekitar 8,22 kali, dan BBRI sekitar 10,27 kali. Sementara itu, BBTN diperdagangkan di level PER sekitar 5,26 kali, mencerminkan valuasi yang relatif rendah meski disertai risiko bisnis yang lebih tinggi.
Dividend yield bank-bank Himbara juga masih tergolong kompetitif. BBRI mencatatkan imbal hasil dividen sekitar 9,07 persen, BBNI sekitar 8,37 persen, BMRI sekitar 4,53 persen, dan BBTN sekitar 4,43 persen. Angka ini membuat saham perbankan BUMN tetap menarik bagi investor berorientasi pendapatan, meski volatilitas pasar jangka pendek meningkat.
Analis pasar menilai pelemahan saham perbankan di awal pekan ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan sentimen pasar secara keseluruhan, bukan karena perubahan fundamental emiten. Investor cenderung melakukan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya, serta menunggu kejelasan arah kebijakan global dan domestik.
Selain itu, tekanan pada IHSG sejak pembukaan turut mendorong investor institusi untuk melakukan rebalancing portofolio, sehingga saham-saham berkapitalisasi besar seperti bank Himbara menjadi sasaran utama aksi jual.
Namun demikian, pelaku pasar masih mencermati potensi rebound pada sesi perdagangan berikutnya, mengingat sektor perbankan nasional tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi domestik, terutama melalui penyaluran kredit ke sektor konsumsi, UMKM, dan infrastruktur.
Dengan fundamental yang masih solid serta valuasi yang relatif menarik, saham-saham bank Himbara diperkirakan tetap menjadi fokus investor dalam jangka menengah, meskipun pergerakan jangka pendek masih akan dipengaruhi dinamika pasar global dan sentimen makroekonomi. (nsp)
Load more