Pasar Keuangan RI Kompak Melemah, IHSG Ambruk, Rupiah Tertekan, dan Imbal Hasil SBN Naik
- istimewa - antaranews
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan kebijakan moneter AS setelah Presiden Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve. Pelaku pasar menilai Warsh berpotensi tidak terlalu agresif dalam memangkas suku bunga, sehingga menopang penguatan dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan di pasar keuangan domestik juga terlihat jelas di pasar obligasi. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik signifikan ke level 6,44%, dari posisi sebelumnya di 6,32% pada Kamis (5/2/2026). Sepanjang perdagangan Jumat, yield SBN 10 tahun bergerak di rentang 6,317% hingga 6,444%, menandakan kuatnya aksi jual di pasar surat utang.
Kenaikan yield ini membawa imbal hasil SBN kembali ke level yang setara dengan September 2025. Pergerakan tersebut memiliki korelasi kuat dengan pelemahan rupiah dan tekanan di pasar saham, karena investor cenderung menarik dana dari aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Kondisi pasar keuangan Indonesia yang memburuk ini terjadi di saat bursa saham Amerika Serikat justru ditutup menguat tajam. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) mencetak rekor baru dengan menembus level 50.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. DJIA melonjak 2,47% atau 1.206,95 poin ke posisi 50.115,67, disusul penguatan S&P 500 sebesar 1,97% dan Nasdaq Composite sebesar 2,18%.
Meski Wall Street menguat, sentimen positif global belum cukup kuat untuk menopang pasar domestik. Investor di dalam negeri masih dibayangi kekhawatiran terhadap arus modal asing, volatilitas nilai tukar, serta arah kebijakan moneter global yang belum sepenuhnya pasti.
Pelaku pasar juga mencermati rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan arus dana asing ke pasar domestik yang menjadi penggerak utama perdagangan hari ini. Minimnya inflow dan dominasi aksi jual dinilai menjadi faktor utama di balik pelemahan serentak IHSG, rupiah, dan SBN.
Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Investor cenderung bersikap defensif sambil menunggu kejelasan arah kebijakan global, stabilitas nilai tukar, serta perkembangan data ekonomi domestik yang dapat memberikan sinyal pemulihan atau lanjutan tekanan di pasar keuangan nasional. (nsp)
Load more