Rupiah Awal Pekan Menguat Tipis, Pasar Global Risk-On Jadi Penopang
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com — Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal pekan dengan pergerakan positif. Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin, rupiah menguat 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.872 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.876 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai kondisi tersebut dipicu oleh suasana risk-on yang kembali mendominasi pasar keuangan internasional.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-on global,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, sentimen risk-on terutama berasal dari pergerakan pasar ekuitas global yang mengikuti penguatan saham-saham di Amerika Serikat. Rebound yang terjadi di Wall Street disebut sebagai bagian dari aksi bargain hunting, khususnya pada sektor teknologi yang sebelumnya mengalami koreksi cukup dalam.
Menurut Lukman, investor global mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah valuasi sejumlah saham teknologi dinilai lebih menarik. Perbaikan sentimen ini kemudian berdampak pada pelemahan terbatas dolar AS dan memberi ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Faktor domestik dinilai belum sepenuhnya mendukung penguatan yang lebih signifikan dalam jangka pendek.
“Namun penguatan diprediksi terbatas mengingat sentimen domestik yang masih lemah,” ujarnya.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah rilis data survei kepercayaan konsumen di dalam negeri. Menurut Lukman, investor menantikan hasil data tersebut untuk membaca arah konsumsi dan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.
“Indeks kepercayaan konsumen Indonesia diperkirakan sedikit naik dari 123,5 ke 123,9,” ungkapnya.
Kenaikan tipis indeks kepercayaan konsumen dinilai dapat menjadi sinyal stabilnya daya beli masyarakat, meski belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah yang lebih agresif. Data ini juga penting bagi pasar dalam menilai ketahanan konsumsi domestik di tengah berbagai tantangan global.
Di sisi lain, pergerakan rupiah juga masih dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter global, terutama arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve). Ketidakpastian mengenai waktu penurunan suku bunga AS membuat dolar AS cenderung tetap kuat dalam beberapa pekan terakhir, sehingga membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang.
Load more