Deal Dagang RI–AS Diteken, Tarif Turun Tapi Risiko Menggunung: Dari Banjir Impor hingga Tekanan UMKM
- BPMI Setpres
Indonesia berkomitmen melakukan pembelian:
-
Energi dari AS senilai US$15 miliar
-
Barang dan jasa sektor penerbangan sekitar US$13,5 miliar
-
Produk pertanian lebih dari US$4,5 miliar
Makna strategis:
Kesepakatan ini bukan hanya soal ekspor, tetapi juga kontrak pembelian jangka panjang yang mengikat.
5. Penghapusan Hambatan Non-Tarif dan Perdagangan Digital
Indonesia akan:
-
Mengurangi hambatan regulasi produk pertanian AS
-
Membuka akses perdagangan digital
-
Menangani isu kelebihan kapasitas baja global
-
Menyederhanakan standar teknis perdagangan
Makna strategis:
Integrasi sistem perdagangan dan data menjadi lebih erat dalam ekosistem ekonomi digital lintas negara.
6. Pembentukan Dewan Perdagangan dan Investasi Bilateral
Kedua negara akan membentuk badan bersama untuk mengawasi implementasi perjanjian dan mengatasi ketidakseimbangan perdagangan.
7. Turunan 11 Nota Kesepahaman Bisnis Senilai US$38,4 Miliar
Kerja sama mencakup:
-
Pengembangan mineral penting
-
Penguatan rantai pasok semikonduktor
-
Pembelian jagung dan kapas
-
Industri furnitur dan bahan baku tekstil daur ulang
-
Hilirisasi silika untuk industri chip
Nilai awal proyek semikonduktor saja diperkirakan mencapai US$4,9 miliar dan berpotensi berkembang hingga lebih dari US$26 miliar.
Efek Samping yang Mulai Dikhawatirkan
Meski membawa peluang ekspor dan investasi, struktur kesepakatan ini dinilai asimetris karena konsesi Indonesia jauh lebih besar dibandingkan penurunan tarif yang diterima.
1. Risiko Banjir Impor dan Tekanan Neraca Dagang
Penghapusan hampir seluruh tarif produk AS berpotensi:
-
Memicu lonjakan impor pangan, energi, dan manufaktur
-
Menggerus surplus perdagangan Indonesia
-
Meningkatkan ketergantungan pada produk luar negeri
2. Ancaman bagi Industri Domestik dan UMKM
Produk lokal harus bersaing langsung dengan barang AS yang:
-
Lebih murah karena bebas tarif
-
Didukung teknologi dan subsidi besar
-
Masuk ke pasar tanpa banyak hambatan regulasi
Sektor pertanian dan manufaktur ringan dinilai paling rentan terdampak.
3. Beban Fiskal dan Subsidi Energi Berpotensi Naik
Komitmen impor energi bernilai besar dapat:
-
Meningkatkan tekanan terhadap APBN
-
Memperbesar kebutuhan subsidi energi
-
Mengurangi fleksibilitas kebijakan energi nasional
4. Ketimpangan Akses Pasar
Tarif ekspor Indonesia masih 19 persen, sementara produk AS masuk hampir tanpa beban.
Kondisi ini dinilai menciptakan ketidakseimbangan dalam praktik perdagangan.
Load more