Goldprice Bergejolak Tajam! Bank Sentral Dunia Rem Mendadak, Ternyata Ini Penyebabnya
- Antara Foto
Dengan kata lain, tekanan jangka pendek pada Goldprice bukan karena lemahnya permintaan, melainkan perubahan cara investor mengakses pasar.
The Fed Jadi Faktor Penentu Arah Goldprice
Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve juga menjadi variabel penting bagi arah Goldprice. Ketika suku bunga turun, biaya peluang memegang emas mengecil sehingga Goldprice biasanya menguat.
Prospek pelonggaran moneter inilah yang diperkirakan kembali menopang Goldprice hingga akhir 2026, terutama jika inflasi tetap menjadi perhatian global.
UBS: Koreksi Goldprice Hanya “Reset”, Bukan Akhir Reli
Pandangan senada datang dari UBS yang menilai penurunan tajam Goldprice sebagai fase penyesuaian, bukan perubahan tren.
Menurut UBS, Goldprice saat ini masih sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan level tahun sebelumnya, menandakan fondasi permintaan tetap solid. Bank tersebut melihat kisaran 4.500–4.800 dollar AS sebagai zona di mana fundamental kembali mendominasi pergerakan Goldprice.
Permintaan bank sentral diproyeksikan mencapai 950 ton pada 2026, sementara arus masuk ETF emas juga diperkirakan meningkat. Kombinasi ini diyakini menjaga Goldprice tetap dalam tren naik jangka menengah.
Goldprice dan Pergeseran Strategi Investasi Global
Kenaikan Goldprice tidak bisa dilepaskan dari perubahan lanskap ekonomi dunia. Ketegangan geopolitik, kekhawatiran fiskal di negara maju, serta ketidakpastian pasar obligasi mendorong investor mencari aset yang dianggap netral secara politik.
Dalam konteks ini, emas kembali menjadi jangkar stabilitas, sehingga Goldprice berperan sebagai indikator ketidakpastian global.
Namun, jika volatilitas terus tinggi, pembelian emas oleh bank sentral bisa tertahan sementara. Sebaliknya, jika pasar kembali tenang, akumulasi emas diperkirakan meningkat lagi dan mendorong Goldprice ke level yang lebih tinggi.
Prospek Goldprice 2026 Masih Bullish
Sejumlah proyeksi memperkirakan Goldprice dapat bergerak menuju 5.400 dollar AS per ounce pada akhir 2026. Bahkan dalam skenario optimistis, Goldprice berpotensi menembus 6.000 dollar AS jika permintaan lindung nilai meningkat tajam.
Artinya, meski sempat bergejolak, narasi besar Goldprice masih bertumpu pada tiga faktor utama: pembelian bank sentral, ekspektasi suku bunga lebih rendah, dan meningkatnya risiko geopolitik.
Dengan kombinasi tersebut, pasar menilai koreksi saat ini lebih sebagai jeda dalam reli panjang Goldprice, bukan pembalikan arah. (nsp)
Load more