IHSG Dibuka Menguat ke 8.428, Pajak Januari Melejit 30,7 Persen Jadi Sentimen Positif Pasar
- istimewa - antaranews
Jakarta, tvOnenews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (24/2/2026) di zona hijau, ditopang data ekonomi domestik yang dinilai solid. Kinerja penerimaan pajak Januari 2026 yang tumbuh signifikan menjadi salah satu katalis positif bagi pasar saham.
Pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, IHSG menguat 31,97 poin atau 0,38 persen ke level 8.428,05. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan naik 0,92 poin atau 0,11 persen ke posisi 848,68.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menilai secara teknikal IHSG berpotensi melanjutkan penguatan terbatas.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance di kisaran 8.310–8.450. Potensi koreksi tetap terbuka, jadi pelaku pasar perlu berhati-hati,” ujarnya dalam kajian di Jakarta.
Penerimaan Pajak Januari Tumbuh 30,7 Persen
Sentimen utama datang dari dalam negeri. Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak Januari 2026 mencapai Rp116,2 triliun. Angka tersebut tumbuh 30,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan setara 4,9 persen dari target APBN 2026.
Lonjakan penerimaan terutama ditopang oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang melonjak 83,9 persen (yoy) menjadi Rp45,3 triliun. Kenaikan ini mencerminkan konsumsi domestik yang tetap kuat di awal tahun.
Selain itu, penurunan restitusi pajak sebesar 23 persen juga berkontribusi terhadap peningkatan penerimaan, seiring perbaikan manajemen restitusi.
Pajak Penghasilan (PPh) badan tercatat tumbuh 37 persen (yoy) menjadi Rp5,7 triliun. Namun, PPh orang pribadi dan PPh 21 sebesar Rp13,1 triliun masih terkontraksi 20,4 persen (yoy), dipengaruhi faktor administratif, termasuk deposit Rp6,1 triliun yang belum dipindahbukukan. Jika disesuaikan, pertumbuhannya diperkirakan bisa mencapai 16,5 persen (yoy).
Sementara itu, PPh final, PPh 22, dan PPh 26 turun 11 persen (yoy) menjadi Rp26 triliun. Di sisi lain, pajak lainnya melonjak 685,8 persen (yoy) menjadi Rp16,1 triliun, dengan tambahan deposit Rp15,4 triliun yang juga belum dipindahbukukan.
Nico menilai kinerja penerimaan Januari memberikan sinyal awal yang cukup kuat bagi kondisi fiskal Indonesia pada kuartal I 2026.
“Ini mengindikasikan daya beli domestik relatif terjaga di awal tahun, yang positif bagi pertumbuhan kuartal pertama. Namun perlu dicermati, sebagian pertumbuhan juga dipengaruhi faktor teknis seperti penurunan restitusi dan belum dipindahbukukannya sejumlah deposit pajak,” jelasnya.
Load more