Dari Achmad Bakrie hingga Anindya: Siapa Pemilik PT Bakrie & Brothers dan Mengapa Right Issue Jadi Penentu Masa Depan
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com — Nama PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kembali menjadi sorotan setelah perseroan mengumumkan rencana penawaran umum terbatas (PUT) atau right issue dengan menerbitkan hingga 90 miliar saham baru seri E. Langkah korporasi ini tak hanya menyedot perhatian investor, tetapi juga memicu kembali pertanyaan publik: siapa sebenarnya pemilik Bakrie & Brothers, bagaimana sejarahnya, dan ke mana arah bisnis konglomerasi ini bergerak?
Rencana Right Issue BNBR: Tambah Modal, Perkuat Fondasi
BNBR berencana menerbitkan saham baru bernominal Rp12 per saham melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Rencana ini akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada Jumat (27/2/2026). Pelaksanaan right issue baru akan dilakukan setelah pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Berdasarkan prospektus, dana hasil right issue setelah dikurangi biaya emisi akan difokuskan untuk pembayaran kewajiban perseroan dan/atau anak usaha kepada kreditur. Selain itu, dana juga dialokasikan sebagai modal kerja dan pengembangan usaha, termasuk pada proyek infrastruktur jalan tol melalui PT Cibitung Cimanggis Tollways (CCT).
Manajemen menilai langkah ini strategis untuk memperkuat struktur permodalan, menjaga kesinambungan operasional, serta membuka ruang ekspansi usaha ke depan. Target akhirnya adalah perbaikan kinerja keuangan dan peningkatan nilai investasi bagi para pemegang saham.
Siapa Pemilik PT Bakrie & Brothers Saat Ini?
Meski identik dengan keluarga Bakrie, struktur kepemilikan saham BNBR saat ini didominasi oleh investor institusi, baik asing maupun domestik. Berdasarkan data kepemilikan per akhir 2025 yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, saham BNBR tersebar di beberapa entitas utama.
Port Fraser International Ltd tercatat sebagai pemegang saham signifikan dengan porsi sekitar 26,73 persen. Disusul Levoca Enterprise Ltd sebesar 25,46 persen dan Fountain City Investment Ltd sebesar 22,17 persen. Sementara itu, UOB Kay Hian Pte Ltd menguasai sekitar 8,47 persen saham, dan Eurofa Capital Investment Inc memegang sekitar 6,76 persen.
Publik juga memiliki porsi besar, mencapai sekitar 28,55 persen saham non-warkat. Komposisi ini menunjukkan bahwa BNBR kini lebih banyak dimiliki investor institusional, meski tetap berada dalam ekosistem Grup Bakrie.
Peran Keluarga Bakrie di Manajemen
Meski kepemilikan saham tersebar, kendali manajerial BNBR masih berada di tangan keluarga Bakrie. Saat ini, posisi Presiden Direktur dijabat oleh Anindya Novyan Bakrie, generasi penerus keluarga Bakrie yang juga aktif di berbagai organisasi bisnis nasional.
Di jajaran direksi dan komisaris, nama-nama internal Grup Bakrie masih mendominasi, menandakan peran strategis keluarga dalam pengambilan keputusan bisnis perseroan.
Sejarah Panjang: Dari Perdagangan hingga Konglomerasi
Jejak Bakrie & Brothers dimulai pada 1942, ketika Achmad Bakrie merintis usaha perdagangan umum dan agen komisi. Perusahaan resmi berdiri pada 1951 dan kemudian menjadi pelopor industri pipa baja di Indonesia.
Ekspansi berlanjut pada 1970-an ke sektor konstruksi baja dan pengerjaan logam. Perseroan mendirikan sejumlah anak usaha, seperti Bakrie Building Industries di bidang bahan bangunan dan Bakrie Tosanjaya—kini dikenal sebagai Bakrie Autoparts—di sektor komponen otomotif.
Tonggak penting terjadi pada 1989, saat Bakrie & Brothers resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an, ekspansi agresif dilakukan ke sektor perkebunan, pertambangan, migas, properti, hingga infrastruktur, menjadikan Bakrie & Brothers sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.
Krisis, Restrukturisasi, dan Divestasi
Krisis keuangan global 2008 menjadi titik balik. BNBR mencatat outstanding debt besar, termasuk keterkaitan dengan Bumi Resources. Restrukturisasi dilakukan melalui pelepasan saham dan divestasi aset strategis untuk menekan beban utang.
Pada periode berikutnya, perseroan juga melepas kepemilikan di sejumlah entitas, seperti Bakrie Sumatra Plantation, Bakrie Telecom, dan Bakrieland Development. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan usaha dan menata ulang struktur keuangan.
Arah Baru di Infrastruktur dan Manufaktur
Kini, Bakrie & Brothers memfokuskan bisnis pada sektor manufaktur logam, komponen otomotif, bahan bangunan, serta infrastruktur, termasuk jalan tol dan energi. Proyek Jalan Tol Cimanggis–Cibitung menjadi salah satu andalan yang diharapkan memberikan kontribusi jangka panjang.
Rencana right issue 2026 menjadi sinyal bahwa perseroan tengah menyiapkan fondasi baru setelah melalui fase restrukturisasi panjang. Bagi investor, langkah ini dipandang sebagai ujian kepercayaan terhadap transformasi BNBR sekaligus arah masa depan Grup Bakrie di tengah dinamika ekonomi nasional. (nsp)
Load more