Kadin Prediksi Eskalasi Perang akan Berlangsung Panjang, Anindya Bakrie Sorot Sektor Pangan dan Energi
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Anindya Bakrie, mengingatkan bahwa eskalasi perang di kawasan Timur Tengah berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal dan dapat memengaruhi ketahanan ekonomi Indonesia.
Peringatan itu disampaikan Anindya usai memimpin rapat Dewan Pengurus Lengkap Kadin di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (5/3/2026).
Rapat yang berlangsung selama tiga jam tersebut sekaligus menjadi forum konsolidasi dunia usaha untuk menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto terkait dampak situasi geopolitik global terhadap perekonomian nasional.
“Kami baru saja melaksanakan rapat Dewan Pengurus Lengkap. Jadi memang rapatnya berlangsung tiga jam, dan secara langsung kami menindaklanjuti juga silaturahmi dan arahan Bapak Presiden waktu itu hari apa ya… dua hari yang lalu, mengenai situasi geopolitik dan dampaknya bagi Indonesia,” ujar Anindya.
Menurutnya, kalangan dunia usaha melihat potensi konflik Timur Tengah yang tidak akan cepat mereda. Situasi tersebut dinilai perlu diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan guncangan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
“Tentu kami dari Kadin fokusnya kepada ekonomi dan dunia usaha. Nah, satu, kami catat bahwa perang di Timur Tengah ini bisa berlangsung mungkin lebih lama dari yang pertama kali kita prediksikan. Jadi apakah itu empat-lima minggu, mungkin sesuatu yang mesti kita antisipasi,” katanya.
Dalam rapat tersebut, Kadin mengidentifikasi tiga sektor krusial yang harus dijaga ketahanannya jika konflik global terus memanas, yakni energi, pangan, dan stabilitas nasional.
Pertama adalah sektor energi yang dinilai paling rentan terdampak gejolak harga global. Menurut Anindya, dunia usaha mencermati langkah pemerintah yang mulai melakukan berbagai analisis terhadap potensi kenaikan harga energi.
“Satu, ketahanan energi sangat penting. Saya mengerti bahwa dari sisi pemerintah sudah melakukan rapat bagaimana untuk melakukan analisa harga BBM, tapi juga LPG dan LNG yang langsung sampai kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain energi, isu ketahanan pangan juga menjadi perhatian utama. Kadin tengah menyiapkan berbagai agenda strategis, termasuk pembahasan mengenai ketahanan pangan nasional melalui forum internasional.
“Yang kedua adalah ketahanan pangan, dan khusus mengenai ketahanan pangan, saya akan nanti menyampaikan mengenai rencana untuk bicara mengenai Food Security Summit dan MBG-nomics,” kata Anindya.
Faktor ketiga yang dinilai tidak kalah penting adalah menjaga stabilitas nasional. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, stabilitas dalam negeri dianggap sebagai fondasi utama sebelum ekonomi dapat kembali bertumbuh.
“Dan yang ketiga ialah bagaimana menjaga kestabilan nasional. Karena pada keadaan seperti ini, penting sekali untuk stabil sebelum bisa kembali berpikir mengenai pertumbuhan,” ujarnya.
Arahan mengenai kewaspadaan terhadap dampak konflik global sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo dalam diskusi kebangsaan yang digelar di Istana Merdeka pada Selasa malam (3/3/2026).
Forum tersebut mempertemukan berbagai tokoh lintas generasi kepemimpinan nasional untuk membahas dinamika geopolitik dunia.
Sejumlah tokoh negara hadir dalam pertemuan itu, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 RI Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin.
Selain para mantan pemimpin nasional, forum tersebut juga dihadiri mantan menteri luar negeri, pimpinan partai politik, pejabat negara, hingga jajaran menteri Kabinet Merah Putih.
Konsolidasi antara pemerintah dan dunia usaha ini menunjukkan bahwa dampak konflik global kini menjadi perhatian serius lintas sektor. Jika eskalasi terus berlanjut, Indonesia dituntut memperkuat fondasi ekonomi domestik agar tetap stabil di tengah guncangan geopolitik dunia. (agr/rpi)
Load more