Perang Meletup di Timur Tengah, Harga Crude Oil Tembus 110 Dolar: Pasar Global Panik, Selat Hormuz Hampir Lumpuh
- ANTARA
Iran, tvOnenews.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga crude oil melonjak tajam hingga menembus level 110 dolar per barel setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin memanas.
Lonjakan harga crude oil ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan besar terhadap jalur distribusi energi dunia, terutama di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur paling vital bagi perdagangan minyak global.
Kondisi tersebut langsung memicu gejolak di pasar keuangan dunia. Bursa saham di berbagai negara Asia anjlok tajam pada perdagangan awal pekan, sementara pelaku pasar berbondong-bondong mengantisipasi potensi krisis energi yang lebih besar.
Harga Crude Oil Melonjak Tajam
Melansir dari BBC, pada perdagangan awal pekan di Asia, harga minyak dunia melonjak drastis hanya dalam hitungan menit setelah pasar dibuka.
Data perdagangan menunjukkan:
-
Brent crude naik hampir 24 persen menjadi sekitar 114,74 dolar per barel
-
Nymex light sweet crude melonjak lebih dari 26 persen menjadi 114,78 dolar per barel
Kenaikan tersebut terjadi sangat cepat. Dalam waktu sekitar satu menit, harga minyak langsung melonjak lebih dari 10 persen, kemudian kembali naik 10 persen hanya dalam waktu 15 menit.
Lonjakan harga crude oil ini menjadi salah satu pergerakan paling agresif dalam beberapa waktu terakhir dan mencerminkan kekhawatiran serius pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Selat Hormuz Nyaris Lumpuh
Ketegangan militer di kawasan Teluk Persia membuat aktivitas pelayaran energi di Selat Hormuz hampir terhenti.
Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya dikirim melalui jalur sempit tersebut.
Sejak konflik meningkat satu pekan terakhir, banyak kapal tanker minyak memilih menunda atau bahkan membatalkan perjalanan mereka melalui selat tersebut karena risiko keamanan yang tinggi.
Gangguan di jalur ini otomatis memperketat pasokan minyak global, sehingga harga crude oil melonjak tajam di pasar internasional.
Jika situasi ini terus berlangsung, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh konsumen di berbagai negara melalui kenaikan harga energi.
Serangan Udara Picu Kekhawatiran Pasar
Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan udara baru ke sejumlah wilayah di Iran selama akhir pekan.
Beberapa target yang dilaporkan terkena serangan termasuk fasilitas energi dan depot minyak di sekitar Teheran.
Serangan terhadap infrastruktur energi ini memicu kekhawatiran bahwa produksi dan distribusi minyak dari kawasan Teluk bisa terganggu dalam jangka panjang.
Pasar yang sebelumnya relatif tenang terhadap potensi konflik kini mulai menunjukkan reaksi keras. Pelaku pasar menyadari bahwa gangguan terhadap energi global bisa berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Bursa Asia Anjlok Tajam
Lonjakan harga crude oil dan meningkatnya ketegangan geopolitik juga berdampak langsung pada pasar saham Asia.
Sejumlah indeks utama mengalami penurunan tajam:
-
Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 7 persen
-
Hang Seng Hong Kong melemah lebih dari 3 persen
-
ASX 200 Australia turun lebih dari 4 persen
-
Kospi Korea Selatan jatuh lebih dari 8 persen
Penurunan tajam di Korea Selatan bahkan memicu aktivasi circuit breaker, yaitu mekanisme penghentian sementara perdagangan selama 20 menit untuk mencegah kepanikan pasar.
Langkah serupa sebelumnya juga terjadi ketika indeks Kospi sempat merosot hingga 12 persen beberapa hari lalu.
Harga Minyak Berpotensi Tembus 150 Dolar
Sejumlah analis memperkirakan harga crude oil bisa melonjak lebih tinggi lagi jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut.
Beberapa proyeksi menyebut harga minyak dunia berpotensi melampaui 150 dolar per barel apabila jalur distribusi energi tersebut tetap terhambat hingga akhir Maret.
Ekonom dari Peterson Institute for International Economics, Adnan Mazarei, mengatakan lonjakan harga crude oil saat ini memang sudah diperkirakan oleh banyak pelaku pasar.
Menurutnya, penghentian produksi di beberapa negara Teluk serta indikasi konflik berkepanjangan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak.
Ia juga menilai pasar mulai menyadari bahwa konflik di kawasan tersebut tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Dampak Langsung ke Harga Energi Dunia
Kenaikan harga crude oil tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga memengaruhi berbagai sektor ekonomi lainnya.
Harga minyak mentah menjadi bahan dasar bagi berbagai produk penting seperti:
-
Bahan bakar pesawat
-
Solar dan bensin
-
Bahan baku pupuk
-
Produk petrokimia
Jika harga crude oil terus naik, biaya produksi dan transportasi di berbagai sektor juga berpotensi meningkat, yang pada akhirnya bisa memicu tekanan inflasi di banyak negara.
Kondisi ini membuat negara-negara konsumen energi, terutama di Asia, mulai berlomba mengamankan pasokan energi alternatif.
Bahkan, sejumlah kapal pengangkut gas alam cair yang sebelumnya menuju Eropa dilaporkan mulai berbalik arah menuju pasar Asia karena permintaan yang meningkat.
Respons Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi lonjakan harga minyak dengan mengatakan bahwa kenaikan harga jangka pendek merupakan konsekuensi dari upaya menekan ancaman nuklir Iran.
Menurutnya, kenaikan harga energi tersebut merupakan “harga kecil yang harus dibayar” untuk memastikan stabilitas keamanan jangka panjang.
Namun di dalam negeri Amerika Serikat, kenaikan harga crude oil juga menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga bahan bakar bagi masyarakat. (nsp)
Load more