Rupiah Melemah ke Rp16.970, Tekanan Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Minyak Bayangi Pasar
- Antara
Investor Masih Wait and See
Meski ada data ekonomi AS yang melemah, tekanan global akibat konflik Timur Tengah masih lebih dominan dalam memengaruhi pasar.
Kondisi ini membuat investor memilih bersikap hati-hati atau wait and see, terutama menjelang periode libur panjang di Indonesia.
Diperkirakan, pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan terbatas dalam rentang tertentu.
“Rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.900–Rp17.050 per dolar AS,” kata Josua.
Selama belum ada tanda-tanda meredanya konflik, potensi rupiah melemah masih tetap terbuka.
Libur Panjang Juga Pengaruhi Pergerakan Rupiah
Selain faktor global, periode libur panjang di Indonesia yang akan dimulai pada 18 Maret 2026 juga turut memengaruhi pergerakan pasar.
Menjelang libur panjang, aktivitas transaksi cenderung menurun karena pelaku pasar memilih mengamankan posisi.
Hal ini membuat pergerakan nilai tukar menjadi lebih terbatas, namun tetap rentan terhadap sentimen eksternal.
Tekanan Eksternal Masih Dominan
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan faktor domestik.
Ketidakpastian konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta penguatan dolar AS menjadi kombinasi yang menekan mata uang negara berkembang.
Selama ketegangan geopolitik belum mereda, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar dan investor diimbau untuk terus memantau perkembangan global yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah ke depan. (nsp)
Load more