IHSG Anjlok ke Bawah 7.000 Jelang Cuti Bersama Lebaran 2026, Investor Dihantui Perang Timur Tengah
- istimewa - antaranews
Jakarta, tvOnenews.com -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka langsung melemah pada awal perdagangan Senin (16/3/2026), di tengah bayang-bayang cuti bersama Lebaran 2026 dan tekanan sentimen global.
Pada pembukaan sesi pertama, IHSG tercatat turun 0,3 persen atau 21,76 poin ke level 7.115,45. Tak berselang lama, tekanan jual semakin dalam hingga membuat IHSG anjlok lebih dari 2 persen dan menembus level 6.967.
Sejak pagi, IHSG konsisten berada di zona merah dengan volatilitas yang cukup tinggi, mencerminkan ketidakpastian yang dirasakan pelaku pasar menjelang periode cuti bersama Lebaran 2026.
Transaksi Sepi, Kapitalisasi Pasar Menyusut
Seiring dengan tekanan pada indeks, aktivitas perdagangan juga terpantau sepi. Nilai transaksi pada sesi awal hanya mencapai Rp220,08 miliar, dengan volume 449,49 juta saham dalam 36.592 kali transaksi.
Dari total saham yang diperdagangkan:
-
154 saham naik
-
177 saham turun
-
316 saham stagnan
Kapitalisasi pasar pun ikut tergerus dan turun menjadi sekitar Rp12.614 triliun.
Minimnya transaksi ini tidak lepas dari faktor cuti bersama Lebaran 2026, di mana banyak investor mulai mengurangi aktivitas dan mengamankan posisi sebelum libur panjang.
Perdagangan Singkat Jelang Cuti Bersama Lebaran 2026
Pekan ini, perdagangan saham di Indonesia hanya berlangsung selama dua hari, yakni Senin dan Selasa, sebelum memasuki masa cuti bersama Lebaran 2026 mulai Rabu (18/3/2026) hingga pekan depan.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati karena waktu transaksi yang terbatas.
Menjelang cuti bersama Lebaran 2026, investor dihadapkan pada dilema antara mempertahankan posisi atau melepas aset di tengah ketidakpastian global.
Sentimen Global Tekan IHSG
Selain faktor cuti bersama Lebaran 2026, tekanan terhadap IHSG juga datang dari berbagai sentimen global.
Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Ketegangan geopolitik yang meningkat berdampak langsung terhadap harga energi, terutama minyak dunia.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkuat dolar AS, yang pada akhirnya menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Fokus Pasar pada Kebijakan Bank Sentral
Pekan ini juga menjadi momen penting bagi pasar keuangan global karena banyaknya keputusan suku bunga dari bank sentral.
Load more