Airlangga Klaim PDB Indonesia Urutan Kedua Antara Negara G20: Jauh Berbeda Dengan Situasi Tahun 1998
- ekon.go.id
Jakarta, tvOnenews.com — Pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis 1998, meski dunia tengah diliputi ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan, bahwa berbagai indikator utama menunjukkan ketahanan ekonomi nasional yang solid dan terkendali.
Salah satu penopang utama adalah pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil di atas 5 persen. Pada 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 5,11 persen—menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua di kelompok G20 setelah India.
“Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) adalah 5,11 persen. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5 persen,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Tak hanya pertumbuhan, disiplin fiskal Indonesia juga dinilai lebih sehat dibanding banyak negara besar. Defisit anggaran Indonesia masih terjaga di bawah 3 persen, lebih rendah dibandingkan India (4 persen), Prancis (4,4 persen), dan Amerika Serikat (6,3 persen).
Dari sisi risiko ekonomi, Indonesia juga berada dalam posisi relatif aman. Laporan Bloomberg mencatat probabilitas resesi Indonesia hanya sekitar 5 persen, jauh di bawah China (15 persen) dan Jepang (30 persen).
Kuatnya konsumsi domestik—yang menyumbang 54 persen terhadap PDB—menjadi bantalan utama menghadapi gejolak global.
Ketahanan ini turut diperkuat oleh sektor pangan. Produksi beras nasional mencapai 34,7 juta ton pada 2025, sementara stok cadangan di Perum Bulog per 8 April 2026 menembus 4,6 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Di sektor eksternal, posisi cadangan devisa juga dinilai sangat memadai. Nilainya mencapai US$148,2 miliar atau setara dengan pembiayaan enam bulan impor, memberikan ruang stabilitas terhadap tekanan global.
“Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar US$148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor,” kata Airlangga.
Selain itu, indikator sosial menunjukkan tren perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, sementara angka pengangguran berada di level 4,7 persen. Dari sisi penerimaan negara, kinerja pajak hingga Maret 2026 mencapai Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen secara tahunan.
Sementara itu, terkait posisi utang pemerintah yang mencapai Rp9.637,9 triliun atau 40,46 persen terhadap PDB, Airlangga memastikan risikonya tetap terkendali. Hal ini karena dominasi kepemilikan domestik pada Surat Berharga Negara (SBN), dengan porsi investor asing hanya sekitar 12,6 persen.
“Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali,” jelasnya.
Dengan kombinasi pertumbuhan stabil, fiskal terjaga, serta ketahanan domestik yang kuat, pemerintah optimistis ekonomi Indonesia mampu terus melaju di tengah tekanan global tanpa mengulang trauma krisis masa lalu. (agr/rpi)
Load more