Bahlil Tegaskan RI Tetap Andalkan Batu Bara Demi Jaga Tarif Listrik: Ini Tentang Survival Mode!
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah masih mempertahankan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Pertimbangan kebijakan ini tak lain adalah untuk menjaga efisiensi energi sekaligus memastikan tarif listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.
Bahlil menyampaikan bahwa Indonesia memiliki cadangan batu bara yang melimpah, sehingga pemanfaatannya masih relevan di tengah dinamika ketahanan energi global.
Ia menilai RI tidak bisa tergesa-gesa meninggalkan batu bara, terutama ketika sejumlah negara maju kembali membuka opsi penggunaan energi fosil tersebut.
Menurutnya, Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di Eropa kini kembali memanfaatkan batu bara untuk menjaga ketahanan energi domestik.
“Sekarang Amerika buka opsi batu bara. Di Eropa membuka opsi batu bara, ada minta ke kita untuk 20 juta ton per tahun,” ujarnya dikutip dari Antara, Sabtu (2/5/2026).
Bahlil menekankan pentingnya mempertimbangkan efisiensi dan kepentingan nasional dalam menentukan arah transisi energi.
Ia menegaskan penggunaan batu bara masih dibutuhkan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan dan harga energi nasional.
“Saya putuskan, saya bilang batu bara jalan aja dulu. Ini bicara tentang survival mode. Kita bicara tentang efisiensi. Jangan kita korbankan rakyat kita dengan harga listrik yang besar,” kata dia.
Data Kementerian ESDM menunjukkan produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Angka tersebut turun 5,5 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 836 juta ton, namun tetap melampaui target produksi sebesar 739,6 juta ton.
Dari total produksi tersebut, sekitar 514 juta ton atau 65,1 persen dialokasikan untuk ekspor. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan domestik melalui skema domestic market obligation (DMO), baik untuk sektor kelistrikan maupun nonkelistrikan, mencapai sekitar 254 juta ton atau 32 persen dari total produksi.
Adapun sisa produksi yang disimpan sebagai cadangan hingga akhir 2025 tercatat sekitar 22 juta ton atau setara 2,8 persen dari total produksi nasional. (ant/rpi)
Load more