Rupiah Hari Ini 13 Mei 2026 Dibuka Menguat Jadi Rp17.515 per Dolar AS
- Antara Foto
Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah hari ini 13 Mei 2026 dibuka rebound atau bergerak menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.515 per dolar AS.
Rupiah dibuka menguat dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.529 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
Menurut Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Tiffani Safinia, pelemahan rupiah didorong ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama.
“Penguatan dolar AS masih didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Tiffani memaparkan pasar memproyeksikan Fed Fund Rate (FFR) tidak turun sepanjang tahun ini di level 3,75 persen.
Di samping itu, pasar juga masih menunggu arah inflasi AS yang akan menentukan ekspektasi kebijakan moneter The Fed ke depannya.
Apabila melihat sentimen domestik, pelemahan rupiah turut dipengaruhi terkait aliran modal asing dan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Menurut dia, isu MSCI yang sebelumnya menyoroti aspek transparansi dan struktur pasar modal Indonesia meningkatkan kehati-hatian investor global terhadap aset domestik.
Selain itu, pasar juga mencermati kekhawatiran kapasitas fiskal pemerintah, besarnya kebutuhan subsidi ketika rupiah melemah dan meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri korporasi pada periode April-Mei.
“Kombinasi faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar dibandingkan mata uang regional lainnya,” ungkapnya.
Berdasarkan pengamatannya, dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian Indonesia perlu dicermati terutama pada sisi inflasi impor.
Pelemahan nilai tukar ini, sambung dia, berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku, energi dan barang konsumsi sehingga mendorong kenaikan harga domestik secara bertahap.
Tekanan bisa juga muncul terhadap APBN lantaran beban subsidi energi dan pembayaran utang valas menjadi lebih besar ketika kurs melemah.
Load more