Cadangan Devisa RI Menyusut Tajam, Tapi BI Sebut Masih Aman Lebih dari Cukup
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Bank Indonesia (BI) memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang aman meski terus mengalami penurunan sejak awal 2026.
Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya intensitas intervensi pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
“Kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup. Ukurannya apa? IMF itu ada indikator kecukupan cadangan devisa, itu kami ukur,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Data BI menunjukkan posisi cadangan devisa turun sebesar 8,4 miliar dolar AS, dari 154,6 miliar dolar AS pada akhir Januari 2026 menjadi 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026.
Sementara pada akhir Desember 2025, posisi cadev tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS.
Perry menjelaskan, BI meningkatkan intervensi di pasar domestik dan luar negeri untuk meredam dampak gejolak global yang menekan rupiah.
Langkah itu membuat cadangan devisa menyusut sekitar 10 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir 2025.
Meski demikian, Perry menegaskan intervensi BI tidak seluruhnya dilakukan melalui transaksi tunai di pasar spot.
Bank sentral juga memanfaatkan instrumen swap, hedging, dan forward agar penggunaan cadangan devisa lebih efisien.
“Penurunan cadangan devisa yang sekitar 10 miliar dolar AS itu baru sebagian saja dari intervensi tunai. Karena sebagian besar, lebih dari dua per tiga itu adalah secara swap dan hedging, supaya tidak semuanya menguras cadangan devisa,” kata Perry.
Selain memperkuat intervensi valas, BI juga mengoptimalkan kebijakan moneter melalui kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik.
Menurut Perry, yield SRBI tenor 12 bulan kini berada di kisaran 6,45 persen, sedangkan tenor 9 bulan sekitar 6,31 persen.
Pada kuartal I 2026, pasar keuangan domestik masih dibayangi arus modal keluar. Outflow tercatat mencapai Rp26,06 triliun di pasar saham dan Rp25,10 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Instrumen SRBI yang sebelumnya mencatat arus masuk modal pada Januari-Februari 2026 juga sempat mengalami outflow pada Maret akibat meningkatnya tensi global.
Load more