Rupiah Bangkit Usai Sempat Sentuh Rp17.800, Kini Menguat Lagi terhadap Dolar AS
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi, 21 Mei 2026. Penguatan ini menjadi perhatian pasar setelah rupiah sebelumnya sempat mengalami tekanan tajam hingga mendekati level Rp17.800 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, kurs rupiah tercatat menguat 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp17.651 per dolar AS.
Pergerakan tersebut memperlihatkan rupiah mulai bangkit setelah sempat mengalami tekanan besar dalam beberapa hari terakhir. Meski penguatannya masih terbatas, stabilisasi rupiah dinilai menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik.
Rupiah Rebound Setelah Tekanan Berat
Sehari sebelumnya, Rabu (20/5/2026), rupiah juga ditutup menguat 52 poin terhadap dolar AS. Padahal, pada perdagangan sebelumnya mata uang Garuda sempat melemah hingga 25 poin.
Pergerakan ini terjadi setelah pasar sempat dibuat khawatir dengan pelemahan rupiah yang mendekati level Rp17.800 per dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Kini, rupiah perlahan kembali bergerak stabil seiring perubahan sentimen global yang memengaruhi pasar mata uang internasional.
Dolar AS Mulai Melemah
Penguatan rupiah hari ini turut dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS di pasar global. Dikutip dari Kitco, dolar AS sempat turun dari posisi tertinggi enam minggunya pada perdagangan Rabu.
Pelemahan dolar terjadi setelah meningkatnya optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump disebut menyampaikan bahwa proses negosiasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir. Kondisi tersebut memicu penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan membuat tekanan terhadap dolar mulai berkurang.
Meski demikian, indeks dolar AS pada Kamis pagi masih tercatat menguat tipis sebesar 0,06 persen ke level 99.153.
Sentimen The Fed Masih Jadi Sorotan
Selain faktor geopolitik, pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Risalah rapat Federal Reserve bulan April menunjukkan semakin banyak pejabat bank sentral AS yang mendukung kemungkinan kenaikan suku bunga. Sentimen tersebut membuat pasar tetap berhati-hati karena kebijakan suku bunga tinggi biasanya memperkuat dolar AS dan memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kepala strategi pasar Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan dolar AS saat ini mulai mendekati area teknikal yang berpotensi memicu penurunan lebih lanjut.
“Dolar AS juga mendekati level teknis yang menunjukkan bahwa akan terjadi penurunan,” ujar Chandler.
Pernyataan itu memberi harapan bagi pasar bahwa tekanan terhadap rupiah bisa mulai mereda apabila penguatan dolar AS tertahan.
Mata Uang Global Bergerak Variatif
Di tengah penguatan rupiah, sejumlah mata uang utama dunia juga menunjukkan pergerakan yang beragam terhadap dolar AS.
Euro tercatat menguat 0,21 persen menjadi US$1,1628 per dolar AS. Poundsterling Inggris juga naik 0,37 persen ke level US$1,3442 per dolar AS.
Sementara itu, dolar Australia menguat 0,63 persen terhadap dolar AS menjadi US$0,5871.
Berbeda dengan mata uang lainnya, yen Jepang justru melemah 0,21 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan mata uang global tersebut mencerminkan pasar masih terus merespons perkembangan geopolitik dunia dan arah kebijakan suku bunga AS.
BI Sebelumnya Naikkan Suku Bunga Demi Stabilkan Rupiah
Penguatan rupiah hari ini juga terjadi setelah Bank Indonesia sebelumnya mengambil langkah agresif dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal dan penguatan dolar AS yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pemerintah sendiri sebelumnya juga telah mematok asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2027 di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Dengan posisi rupiah yang saat ini berada di level Rp17.651 per dolar AS, pasar masih menunggu langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas mata uang nasional di tengah dinamika global yang masih bergejolak. (nsp)
Load more