Desa Energi Berdikari Keliki Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih, Hasilkan Padi Organik hingga 8,7 Ton per Hektare
- Pertamina
Selain mendukung pengolahan sampah, DEB Keliki juga memanfaatkan PLTS berkapasitas 17,5 kWp untuk sistem pengairan pertanian. Energi yang dihasilkan digunakan untuk mengoperasikan pompa air tanah tenaga surya yang menyuplai kebutuhan irigasi selama musim kemarau di tujuh subak, yakni Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu.
PLTS untuk irigasi tersebut menghasilkan energi surya sekitar 84.000 kWh per tahun. Keberadaannya mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 23,1 ton CO2eq per tahun serta menghemat biaya listrik sekitar Rp35 juta setiap tahun.
Pemanfaatan energi bersih dalam sektor pertanian turut meningkatkan produktivitas padi organik yang dihasilkan masyarakat. Sebelum program dijalankan, hasil panen rata-rata hanya mencapai 5 hingga 5,5 ton per hektare. Setelah mendapat pendampingan dari Pertamina, produktivitas meningkat menjadi 8,7 ton per hektare.
Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, mengaku terkesan dengan keberhasilan program yang tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
“Dari program DEB Keliki ini, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program-program yang dimiliki. Melihat keberhasilan DEB Keliki, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang, semoga program TSJL Perusahaan, bisa lebih memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, DEB Keliki telah berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan konsep eco village dan agrikultur. Program tersebut telah memberikan manfaat kepada sekitar 1.200 kepala keluarga, melibatkan sembilan tenaga kerja, serta menggandeng 15 pelaku UMKM pemuda desa.
Dari aktivitas pengelolaan sampah, masyarakat juga berhasil menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi, seperti pupuk organik berkualitas tinggi, ecoenzyme berbahan limbah organik dapur, serta kompos organik.
Keberhasilan program tersebut menjadikan DEB Keliki sebagai tujuan studi bagi berbagai perguruan tinggi dan wisatawan mancanegara. Hingga kini, sedikitnya 6.000 pengunjung telah datang untuk mempelajari pengelolaan sampah dan pertanian berbasis energi bersih, menikmati panorama persawahan, serta mengunjungi saung dan kafe milik warga yang turut menggerakkan perekonomian desa. (rpi)
Load more