Rupiah Dibuka Rp17.885 per Dolar AS, Pengamat Nilai Konflik Timur Tengah dan Kebijakan Trump Jadi Pemicu
- Antara Foto
Jakarta, tvOnenews.com — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan berat pada perdagangan Selasa (2/6/2026).
Mata uang Indonesia itu dibuka melemah hingga menyentuh level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS).
Hal ini dipicu kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan perdagangan terbaru Presiden AS Donald Trump yang mendorong penguatan dolar.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah kali ini tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
“Hari ini rupiah dibuka melemah di Rp17.885, hampir 80,5 poin pelemahan terhadap mata uang rupiah,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, pasar saat ini mencermati sikap Iran yang dinilai semakin menjauh dari upaya diplomasi dengan Amerika Serikat. Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan.
“Salah satu penyebabnya adalah tentang eskalasi di Timur Tengah, ya di mana kita melihat bahwa Iran ini sudah apatis terhadap Amerika sehingga apa, sehingga Iran tidak lagi melaporkan ya tentang pesan-pesan ya draft-draft terhadap Pakistan,” ujarnya.
Ibrahim menilai perkembangan tersebut menciptakan ketidakpastian baru bagi pelaku pasar global.
Di saat yang sama, Iran disebut memiliki kepentingan agar proses perdamaian dengan Amerika Serikat juga mencakup situasi di Lebanon.
“Nah, ini yang membuat ketegangan tersendiri, sedangkan Iran sendiri menginginkan bahwa perdamaian antara Amerika dan Iran itu masuk juga adalah perdamaian di Lebanon,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa potensi keterlibatan Iran dalam konflik Israel-Lebanon dapat memperburuk sentimen pasar dan mendorong investor memburu aset-aset aman berbasis dolar AS.
“Iran kemungkinan besar akan ikut campur dalam perang Israel-Lebanon yang ini membuat ketegangan tersendiri sehingga membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan yang cukup signifikan,” jelas Ibrahim.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari Amerika Serikat. Ibrahim menyoroti langkah Presiden Donald Trump yang kembali mengubah kebijakan tarif impor terhadap sejumlah komoditas strategis.
“Nah, di sisi lain pun juga Donald Trump pada hari Senin menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor beberapa tembaga, aluminium, dan besi. Ya ini cukup menarik ya dari 25 persen menjadi 15 persen,” tuturnya.
Load more