Rupiah Jatuh Lagi hingga Tembus Rp18.188 per Dolar AS Sore Ini, Apa Penyebabnya?
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali jatuh pada Senin (8/6/2026) sore. Mata uang Garuda di pasar spot melemah 0,84% secara harian ke Rp18.188 per dolar AS. Berdarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,73% secara harian ke Rp18.171 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, menyampaikan kondisi keterpurukan yang menembus rekor baru ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.
Dari sisi eksternal sentimen utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berasal dari kembali memanasnya konflik di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk fasilitas petrokimia di wilayah barat daya negara tersebut.
Situasi itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman. Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump masih meyakini peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik tetap terbuka.
Pasar menilai ketidakpastian geopolitik masih tinggi, terlebih Iran dikabarkan menjadikan gencatan senjata sebagai salah satu syarat dalam pembahasan kesepakatan dengan Washington.
Namun, hal juga perlu jadi perhatian serius sebenarnya adalah dari sisi internal dalam negeri.
"Kegelisahan pasar atas agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo terhadapa program politik yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa ( Kopdes) Merah Putih, membuat devisit neraca transaksi berjalan melebar. Pelebaran devisit tersebut, terjadi seiring menyusutnya surflus perdagangan Indonesia," kata Ibrahim Assuaibi.
Lebih lanjut, menurutnya pemerintah harus menghitung ulang dengan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah setelah penutupan selat hormuz di Timur Tengah oleh Iran, sehingga kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat hutang pemerintah semakin membengkak.
Sementara itu, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa mencapai US$144,9 miliar atau setara Rp2.590,2 triliun pada akhir Mei 2026. Cadangan devisa tersebut turun dari bulan sebelumnya sebesar US$146,2 miliar.
Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh maka cadangan devisa di level US$144,9 miliar itu merupakan rekor terendah baru sejak Juni 2024 (saat itu cadangan devisa di level US$140,2 miliar) atau dalam 23 bulan terakhir.
Meski menurun, cadangan devisa tersebut masih setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sehingga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa saat ini masih mampu menopang ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. (rpi)
Load more