Keliling Inggris hingga AS Demi Promosi Bond Danantara, Rosan Klaim Kepercayaan Investor Asing Kuat
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengklaim berhasil membalikkan keraguan sebagian pelaku pasar terhadap prospek investasi Indonesia.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan gejolak pasar keuangan domestik, obligasi global perdana Danantara justru dibanjiri permintaan investor internasional hingga mencapai US$4,6 miliar.
Capaian tersebut jauh melampaui target awal penggalangan dana yang hanya sebesar US$1 miliar. Tingginya minat investor akhirnya mendorong Danantara meningkatkan nilai penerbitan obligasi menjadi US$1,5 miliar.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan, respons positif tersebut diperoleh setelah tim Danantara melakukan roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia, mulai dari Hong Kong, Singapura, Inggris hingga Amerika Serikat (AS).
Dalam rangkaian promosi Global Bond Danantara tersebut, manajemen bertemu langsung dengan 122 investor internasional untuk memaparkan arah kebijakan investasi dan strategi pengelolaan aset yang dijalankan lembaga investasi milik negara tersebut.
“Setelah kami melakukan roadshow di beberapa negara itu dan kami sampaikan juga kebijakan-kebijakan policy dan investasi dari Danantara lakukan, alhamdulillah saya boleh laporkan response-nya itu sangat baik,” ujar Rosan di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).
Menurut Rosan, antusiasme investor bahkan melampaui seluruh proyeksi awal yang disusun manajemen. Permintaan yang masuk tercatat mencapai lebih dari tiga kali lipat target penghimpunan dana.
“Sehingga, melihat animo yang begitu tinggi, akhirnya kami upsize atau meningkatkan dari US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar, yang di mana itu dibagi menjadi 5 tahun dan juga 10 tahun,” ucap dia.
Keberhasilan tersebut dinilai semakin signifikan karena terjadi ketika kondisi pasar sedang tidak ideal. Rosan mengakui banyak pihak sempat mempertanyakan waktu penerbitan obligasi mengingat pasar saham domestik sedang mengalami tekanan dan nilai tukar rupiah melemah.
“Nah, dari yang 5 tahun ini, yang awalnya tadinya kami diindikasikan karena keadaan memang juga sedang pada saat itu memang pasar modal kita sedang turun, kemudian mata uang kita juga kita sedang tertekan, memang waktu itu banyak mempertanyakan timing-nya juga,” sambung Rosan.
Meski demikian, hasil akhir penerbitan obligasi justru menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap Indonesia masih terjaga. Menurut Rosan, keberhasilan tersebut menjadi bukti konkret bahwa pasar internasional tetap menaruh keyakinan terhadap prospek ekonomi nasional dan arah kebijakan pemerintah.
“Nah, ini adalah hasil yang sangat sangat baik, dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi dan ini terbukti dan ini real ya. Dan ini real. Kenapa? Karena tanggal 11 kemarin kita sudah signing, dan tanggal 18, dan ini akan masuk ke dalam rekening Danantara,” papar dia.
Rosan juga menyinggung berbagai keraguan yang sempat muncul terkait kemampuan Indonesia menarik investasi global. Bahkan, menurutnya, terdapat anggapan bahwa investor internasional enggan menempatkan dana di Indonesia karena rendahnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah.
Namun, realisasi penerbitan obligasi Danantara justru menunjukkan kondisi sebaliknya. Tingginya permintaan investor menjadi indikator bahwa persepsi pasar global terhadap Indonesia masih positif.
Keberhasilan tersebut bahkan mendapat perhatian media internasional. Rosan mengutip laporan Bloomberg yang menyoroti suksesnya penerbitan obligasi perdana Danantara sebagai sinyal positif bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Dan ini pun di banyak media termasuk juga salah satunya di Bloomberg langsung menyatakan bahwa ‘Danantara Sells Debut Dollar Bond, A Win For Prabowo After Rout’. Jadi, ini juga disampaikan di dalam Bloomberg dan juga tadi saya cek quote-nya salah satunya setelah kita closing. Ini yang menyatakan bahwa bond kita ini memang sangat sukses dilihat dari segi permintaannya, dilihat dari segi yield-nya yang relatif rendah,” tandas Rosan. (agr/rpi)
Load more