Rupiah Makin Anjlok Hampir ke Rp 18.000, Pasar Respons Negatif Defisit Neraca Perdagangan Mei 2026
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (2/7/2026).
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.961 pada Rabu, 1 Juli 2026. Posisi rupiah itu melemah 62 poin dari kurs sebelumnya di level 17.899 pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 2 Juli 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.977 per dolar AS. Posisi itu melemah 25 poin atau 0,14 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.952 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespon negatif terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2026 yang defisit US$1,61 miliar.
Defisit pertama sejak 6 tahun lalu itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi yakni sebesar US$24,81 miliar, sedangkan ekspor hanya US$23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Defisit pada Mei 2026 disebabkan pada komoditas migas yang defisit US$3,76 miliar, dengan penyumbang defisit komoditas migas hasil minyak dan minyak mentah. Dari catatan BPS, impor memang meningkat hingga 22,16 persen jika dibandingkan Mei 2025.
BPS mencatat, impor migas sebesar US$4,51 miliar meningkat 70,78 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Impor non-migas US$20,30 miliar atau naik 14,69 persen. Impor tahunan didorong impor non-migas dengan andil 12,95 persen.
Selain itu, inflasi tahunan pada Juni 2026 berada di level 3,34 persen (yoy). Kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, hingga transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut.
Realisasi inflasi ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada kondisi Juni 2025, menjadi 111,89 pada kondisi Juni 2026. Hal itu menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir tetapi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.950-Rp 18.010," ujarnya.
Sebagai informasi, ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global.
Para pedagang tetap fokus pada perkembangan di Doha setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis.
Pergeseran ini mengaburkan prospek kesepakatan cepat untuk mengubah gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua minggu menjadi kesepakatan perdamaian yang langgeng.
Mohammad Yudha Prasetya
Load more