Kadin Respons Keluhan Investor China soal DHE: Fokus Kami Bukan Keluhan, Tapi Peluang Investasi
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com – Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menegaskan, dunia usaha memilih mengedepankan peluang investasi ketimbang memperpanjang polemik atas berbagai keluhan investor China terhadap sejumlah kebijakan pemerintah Indonesia.
Di tengah munculnya surat keberatan pelaku usaha China terkait aturan devisa hasil ekspor (DHE), royalti tambang, hingga iklim investasi, Kadin justru mengklaim hubungan ekonomi kedua negara tetap kuat dan berpotensi mencatat pertumbuhan investasi hingga 20 persen pada tahun ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Anindya usai menghadiri Indonesia-China Partnership Forum: Advancing Green Energy and Future Technology di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (23/7/2026).
“Salah satu upaya kami ke Beijing bulan lalu ialah kami justru berfokus kepada bukan saja keluhan, tapi opportunity-nya seperti apa,” kata Anindya.
Ia mengakui setiap negara berkembang akan menghadapi proses pembenahan regulasi. Namun, menurutnya, dunia usaha memiliki kepentingan untuk memastikan iklim investasi tetap tumbuh sehingga mampu mendorong aktivitas ekonomi yang lebih besar.
“Karena kita lihat dalam negara berkembang ini pasti ada saja yang sedang dibenahi pemerintah. Tapi dari dunia usaha fokus gimana membawa investasi lebih besar dan juga perdagangan lebih besar,” ujarnya.
Anindya mengatakan momentum berikutnya untuk memperkuat kerja sama ekonomi Indonesia-China akan berlangsung pada Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2026 di Shenzhen, China, pada November mendatang. Forum tersebut akan dimanfaatkan Kadin untuk mendorong peningkatan investasi dan perdagangan bilateral.
“Dan saya rasa nanti puncaknya akan ada di Shenzhen pada waktu bulan November. Nah, di situlah kami juga akan mendorong untuk investasi dan juga perdagangan lebih besar lagi,” katanya.
Menurut Anindya, optimisme tersebut didukung oleh hubungan kelembagaan yang semakin erat antara Kadin Indonesia dan mitranya di China melalui Komite Bilateral Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT).
“Jadi kalau kami lihat hubungan kami dengan Tiongkok sangat-sangat bagus. Komite bilateral kami KIKT juga sangat aktif,” ujarnya.
Ia bahkan memperkirakan realisasi investasi dari China dan Hong Kong masih berpeluang tumbuh 10–20 persen sepanjang 2026 seiring meningkatnya aktivitas bisnis lintas negara.
“Dan terlihat dari angkanya bahwa jumlah investasinya saya rasa bisa tumbuh sampai 10-20 persen tahun ini berbarengan dengan aktifnya Hong Kong dan Tiongkok, China,” ungkap Anindya.
Selain itu, Anindya menyebut mulai munculnya perusahaan Indonesia yang melakukan dual listing di Bursa Hong Kong menjadi sinyal semakin dalamnya integrasi pasar modal kedua negara.
“Dan terlihat juga tadi disampaikan bahwa sudah mulai ada dual listing dari perusahaan-perusahaan Indonesia di Hong Kong. Jadi artinya benar-benar cross-border transaction ini menghasilkan sesuatu yang baik buat dua negara,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kamar Dagang China di Indonesia mengirimkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto yang berisi sejumlah kekhawatiran pelaku usaha terhadap kebijakan pemerintah, antara lain terkait kenaikan pajak dan royalti, pengetatan aturan devisa hasil ekspor (DHE), pengurangan kuota bijih nikel, serta praktik penegakan hukum yang dinilai mengganggu kepastian berusaha. (agr/rpi)
Load more