Joko Purnomo Buktikan Petani Bisa Sejahtera, Panen 9 Ton per Hektare hingga 3 Kali Setahun
- Kementan
Ngawi, tvOnenews.com – Menjadi petani bagi Joko Purnomo bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berasal dari keluarga petani, Joko telah akrab dengan sawah, panas matahari, lumpur, hingga berbagai tantangan yang dihadapi petani sejak masih kecil.
Sekitar 20 tahun menekuni pertanian padi membuat Joko tidak hanya bertahan sebagai petani. Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Makmur, Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, tersebut justru mendorong perubahan di lingkungannya dengan menerapkan teknologi pertanian.
Joko membuktikan bahwa pertanian dapat menjadi pekerjaan yang menjanjikan apabila dikelola dengan cara yang lebih modern dan efisien.
Pernah Berutang untuk Beli Hand Traktor
Perjalanan Joko membangun usaha pertaniannya tidak selalu mudah. Pada awalnya, keterbatasan modal menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi.
Ia bahkan mengaku harus berutang dan menggadaikan BPKB kendaraan untuk membeli hand traktor bekas yang digunakan dalam mengelola lahan.
“Bagaimana waktu itu saya hand traktor ngutang dulu. Mesti gadaikan BPKB untuk bayar hand traktor walaupun itu bekas,” kata Joko saat wawancara dengan Bakom RI, Jumat, 14 Agustus 2026.
Dari keterbatasan tersebut, Joko perlahan mulai mengembangkan cara bertani dengan memanfaatkan teknologi dan berbagai peralatan pertanian.
Menurutnya, penggunaan teknologi membuat proses budidaya padi menjadi lebih cepat sekaligus efisien dibandingkan ketika sebagian besar pekerjaan masih dilakukan secara manual.
Gunakan Dapog hingga Sumur Submersible
Salah satu teknologi yang dimanfaatkan Joko adalah metode dapog untuk proses persemaian padi.
Dengan metode tersebut, persemaian dapat dilakukan di halaman atau pekarangan menggunakan kotak pembibitan. Cara ini membuat persemaian tidak membutuhkan lahan yang luas.
Joko juga memanfaatkan sumur submersible untuk mendukung kebutuhan air di lahan pertaniannya.
Selain itu, penggunaan mesin dalam proses pengolahan lahan turut memangkas waktu pengerjaan. Ia mencontohkan penggunaan rotavator berukuran besar yang membuat proses pengolahan lahan yang sebelumnya membutuhkan waktu lama menjadi lebih singkat.
Efisiensi semakin terlihat ketika memasuki masa panen. Jika sebelumnya proses panen satu hektare membutuhkan waktu hingga empat hari, penggunaan mesin combine harvester membuat pekerjaan tersebut dapat diselesaikan hanya dalam hitungan jam.
Load more