Dahlan Iskan Bongkar Sisi Gelap Utang Pengusaha: Rp350 Miliar hingga 800 Cek Kosong
- istimewa - antaranews
Bisnis keagenannya pun harus dihentikan. Syaikhul meminta waktu kepada para pihak yang memiliki tagihan, menjual produk yang masih tersimpan di gudang hingga menawarkan aset untuk membayar kewajibannya secara bertahap.
Alih-alih berhenti berbisnis, pengalaman tersebut justru membawanya ke model usaha baru. Pengetahuan mengenai pupuk, jaringan pemasaran serta kebutuhan konsumen yang diperoleh selama menjadi distributor digunakan untuk membangun bisnis sebagai produsen sekaligus penjual pupuk.
Utang Rp350 Miliar dan Melepas Aset Produktif
Tekanan utang dalam jumlah besar juga pernah dialami Eka Nugraha, pengusaha telekomunikasi asal Bogor.
Eka memiliki utang hingga Rp350 miliar. Setelah bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World, ia mulai melakukan perubahan dalam pengelolaan bisnis. Dalam waktu sekitar satu tahun, utangnya disebut telah berkurang hingga setengahnya dan bisnis mulai berkembang tanpa ketergantungan pada utang perbankan.
Sementara itu, Fauzi Priambodo, pengusaha asal Surabaya yang sebelumnya berkarier sebagai konsultan dan strategic planner, menghadapi persoalan setelah pembiayaan bisnisnya meningkat tajam.
Pembiayaan yang awalnya sekitar Rp2 miliar berkembang hingga sekitar Rp140 miliar seiring pertumbuhan proyek yang diperoleh.
Untuk memutus siklus tersebut, Fauzi mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia menjual 20 gerai minimarket yang merupakan aset produktif untuk membantu menyelesaikan kewajibannya.
Keputusan tersebut menggambarkan bahwa penyelamatan bisnis terkadang membutuhkan pengorbanan terhadap aset yang selama ini justru menghasilkan pendapatan.
Bagi Dahlan, keputusan seperti itu menjadi bagian dari keberanian seorang pengusaha untuk menyelamatkan bisnis sebelum persoalannya semakin besar.
Dahlan: Bukan Semua Pembiayaan Harus Dihindari
Meski berbagai kisah tersebut menunjukkan risiko utang, diskusi yang dipandu Dahlan tidak lantas menyimpulkan bahwa semua pembiayaan harus dihentikan.
Khalid Bawazier, pengusaha dengan pengalaman bisnis lintas negara, menilai pembiayaan tetap dapat digunakan selama struktur transaksi, akad, kemampuan pembayaran dan risikonya diperhitungkan secara matang.
Menurutnya, persoalan bukan semata-mata terletak pada ada atau tidaknya pembiayaan, tetapi bagaimana mekanisme transaksi tersebut dijalankan.
Ia mencontohkan pembelian mesin melalui skema ketika bank terlebih dahulu membeli mesin sebelum menjualnya kembali kepada pengusaha dengan harga dan margin yang telah disepakati.
Load more