Rupiah Menguat, Cadangan Devisa RI Tembus US$145,3 Miliar di Tengah Gejolak Global
- dok. Setpres
-
Insentif untuk swap jual lindung nilai dinaikkan menjadi 12,5 persen.
-
Insentif untuk DNDF jual lindung nilai diberikan sebesar 15 persen.
-
Untuk meningkatkan transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra, premi swap beli lindung nilai diberikan sebesar 10 persen.
-
Pengurangan premi DNDF jual lindung nilai diberikan sebesar 10 persen.
BI menyatakan akan terus menempuh berbagai strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ke depan, rupiah diperkirakan tetap stabil seiring penguatan respons kebijakan stabilisasi bank sentral.
Investasi Portofolio Asing Mulai Masuk
Ketahanan eksternal Indonesia juga didukung oleh perkembangan transaksi modal dan finansial. BI mencatat aliran investasi portofolio asing pada triwulan III-2026 hingga 14 Agustus 2026 mengalami net inflows sebesar US$1,8 miliar.
Aliran dana asing tersebut ditopang oleh penerbitan global bonds pemerintah serta masuknya investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung stabilitas eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
Neraca Perdagangan Masih Surplus
Dari sisi perdagangan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) juga terus menjadi perhatian untuk memperkuat ketahanan eksternal.
Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 secara kumulatif mencatat surplus sebesar US$3,58 miliar. Namun, pada Juni 2026, neraca perdagangan mencatat defisit sebesar US$0,45 miliar.
BI menilai kinerja NPI perlu terus diperkuat agar ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga menghadapi berbagai perubahan kondisi ekonomi dunia.
Ketidakpastian global masih dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas dunia.
Pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan belum kuat, yakni sekitar 3 persen. Sementara tekanan inflasi global diperkirakan masih tinggi sekitar 4,5 persen.
Kondisi tersebut turut mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat. Suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat atau Fed Fund Rate diperkirakan naik pada triwulan IV-2026. Imbal hasil atau yield US Treasury juga diperkirakan tetap tinggi seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan defisit anggaran Amerika Serikat yang masih lebar.
Load more