IHSG Ditutup Merah di 6.509,77, Saham Bank Besar Bergerak Beragam
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup turun 0,13% ke level 6.509,77.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang sudah terlihat sejak perdagangan sesi pertama. Pada akhir sesi I, IHSG berada di level 6.517,23, turun tipis 0,01%.
Artinya, setelah sesi pertama berakhir di zona merah, pergerakan IHSG masih melanjutkan pelemahan hingga penutupan perdagangan. Dari level 6.517,23 pada akhir sesi I, IHSG turun sekitar 7,46 poin menjadi 6.509,77 pada akhir perdagangan.
Berdasarkan grafik perdagangan, IHSG sempat bergerak di bawah level 6.500 pada pagi hari sebelum berangsur pulih menjelang siang. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk membawa indeks bertahan di zona positif hingga akhir perdagangan.
Tekanan pasar juga tercermin dari sejumlah indeks global yang berada di zona merah. Data pasar global menunjukkan Dow Jones Industrial Average turun 0,018%, S&P 500 melemah 0,25%, Nasdaq Composite turun 0,52%, sementara Russell 2000 terkoreksi 1,39%.
Kondisi tersebut menunjukkan investor masih menghadapi sentimen eksternal yang cukup menekan menjelang memasuki perdagangan September.
Saham Bank Besar Masih Menguat
Di tengah pelemahan IHSG, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru mampu bergerak positif.
Berdasarkan data perdagangan, saham BBCA ditutup naik 75 poin ke level Rp6.475. Saham BMRI juga menguat 40 poin menjadi Rp4.250, sedangkan BBRI naik 40 poin ke level Rp3.190.
Sementara itu, saham TPIA menguat 15 poin menjadi Rp1.965.
Penguatan juga terjadi pada saham EMAS yang naik 175 poin ke level Rp9.300. Saham DSSA menguat 5 poin menjadi Rp1.145.
Namun, tidak semua saham mampu bertahan di zona hijau. BUMI turun 4 poin menjadi Rp190, CUAN melemah 5 poin menjadi Rp810, INET turun 10 poin menjadi Rp340, dan KIJA terkoreksi 8 poin ke level Rp210.
Pergerakan tersebut memperlihatkan kondisi pasar yang masih selektif. Penguatan pada sejumlah saham unggulan belum cukup untuk mengangkat IHSG secara keseluruhan.
Sentimen MSCI Masih Membayangi Pasar
Pelemahan IHSG pada perdagangan awal pekan ini juga terjadi setelah periode rebalancing indeks MSCI yang sebelumnya meningkatkan volatilitas pasar.
Untuk perdagangan Selasa, 1 September 2026, pasar diperkirakan memiliki peluang bergerak lebih normal setelah tekanan mekanis MSCI berakhir. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta menjadi sinyal bahwa IHSG akan langsung memasuki fase bullish agresif.
Investor diperkirakan mulai kembali mencermati sejumlah faktor fundamental, mulai dari kinerja emiten, pergerakan rupiah, data inflasi dan PMI domestik, arah imbal hasil atau yield surat utang Amerika Serikat, hingga aliran dana asing.
Saham-saham yang memperoleh kenaikan bobot dalam MSCI, seperti BBCA, BBRI, TLKM, ASII, dan BBNI, berpotensi memperoleh dukungan teknis dari arus dana pasif.
Sebaliknya, saham yang terkena pengurangan bobot maupun penghapusan dari indeks perlu diwaspadai karena masih berpotensi menghadapi tekanan dari sisi aliran dana.
BBRI Masih Jadi Perhatian
Sektor perbankan besar menjadi salah satu sektor yang penting diperhatikan untuk melihat apakah potensi rebound IHSG setelah periode MSCI dapat berlangsung secara sehat.
BBRI menjadi salah satu saham yang memiliki katalis teknis karena memperoleh kenaikan bobot MSCI. Saham ini ditutup di level Rp3.190 pada perdagangan Senin.
Selain faktor MSCI, likuiditas BBRI yang tinggi dan statusnya sebagai salah satu bank besar membuat saham tersebut relatif mampu menyerap perubahan arus dana dibandingkan saham lapis dua.
Dengan kondisi tersebut, BBRI diperkirakan memiliki ruang penguatan menuju kisaran Rp3.220-Rp3.280.
BBCA Berpeluang Technical Rebound
Saham BBCA juga menjadi perhatian karena pergerakannya cenderung tidak seekstrem saham berbasis komoditas.
Karakter tersebut dinilai relevan ketika pasar mulai keluar dari periode rebalancing dengan volatilitas tinggi. BBCA juga termasuk saham yang memperoleh estimasi tambahan arus dana dari perubahan bobot MSCI.
Dengan harga penutupan Rp6.475, BBCA memiliki peluang technical rebound menuju kisaran Rp6.500-Rp6.550, terutama apabila tekanan rebalancing mulai mereda.
TLKM, ASII dan BBNI
Saham TLKM juga menarik untuk diperhatikan karena memiliki kombinasi likuiditas besar, karakter defensif, serta katalis dari rebalancing MSCI.
TLKM diperkirakan memperoleh tambahan bobot dan ditutup di level Rp2.570. Saham ini berpotensi bergerak menuju kisaran Rp2.600-Rp2.670.
Sementara itu, ASII memiliki keunggulan dari sisi diversifikasi bisnis yang mencakup otomotif, jasa keuangan, alat berat, agribisnis hingga infrastruktur. Saham ASII ditutup di level Rp4.800 dan diperkirakan memiliki ruang menuju Rp5.000-Rp5.100.
Adapun BBNI menjadi pilihan lain dari sektor perbankan. Saham tersebut ditutup di level Rp3.780 dan berpotensi bergerak menuju kisaran Rp3.860-Rp3.950.
Dengan demikian, meski IHSG kembali melemah hingga penutupan, peluang pemulihan pada perdagangan berikutnya masih terbuka. Namun, investor tetap perlu mencermati sentimen global, arus dana asing, pergerakan rupiah, serta dampak lanjutan dari perubahan bobot MSCI sebelum mengambil keputusan investasi.
Load more