Rupiah Menguat ke Rp17.605 per Dolar AS di Tengah Tekanan Harga Minyak Dunia terhadap Ketahanan Fiskal RI
- tvOnenews.com/Wildan M.
Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah menguat ke Rp17.605 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tekanan harga minyak dunia terhadap ketahanan fiskal RI.
Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah berada di level Rp17.611 per dolar AS pada Jumat, 11 September 2026.
Posisi rupiah melemah 75 poin dari kurs sebelumnya di level Rp17.536 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 10 September 2026.
Pada Senin, 14 September 2026 rupiah ditransaksikan di Rp17.605 per dolar AS.
Posisi rupiah menguat 6 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.611 per dolar AS.
Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan harga minyak mentah dunia melampaui US$100 per barel, sehingga posisi Indonesia sebagai importir neto minyak menjadi tantangan berat bagi ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional.
"Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat," ujarnya, Senin (14/9/2026).
Dia memaparkan secara otomatis kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi Makro APBN menaikkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi BBM.
Dengan demikian, akan terjadi risiko defisit jika pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat.
Pasalnya, kata dia, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran.
Indonesia harus mengimpor minyak dalam jumlah besar menggunakan dolar AS.
Tingginya harga minyak membuat kebutuhan akan dolar AS melonjak tajam, sehingga terjadi pelebaran transaksi berjalan dan tingginya permintaan terhadap mata uang asing yang dapat menekan nilai tukar rupiah dan pada gilirannya bisa memicu inflasi barang impor untuk komoditas lainnya.
Di samping itu, pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter.
Jika menaikkan harga BBM, maka akan memicu inflasi tinggi, menurunkan daya beli masyarakat dan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Meskipun di sisi lain Indonesia diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas ekspor lain seperti batu bara atau kelapa sawit (CPO) yang sering kali ikut terkerek naik saat krisis energi, keuntungan tersebut sering kali tidak cukup untuk sepenuhnya menutup kerugian akibat membengkaknya biaya impor minyak mentah.
Untuk diketahui, Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz.
Di sisi lain, AS menyatakan telah melakukan serangan balasan dengan menenggelamkan lima kapal tanker Iran.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran turut menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah menyusul sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa kelompok tersebut telah menguasai kota pelabuhan, Mocha, dan memperkuat posisi mereka atas Selat Bab el-Mandeb.
Kelompok Houthi, yang telah menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi, disebut-sebut menyerang kapal-kapal di Bab el-Mandeb dan melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.
Serangan tersebut berpotensi memutus jalur utama pasokan minyak Timur Tengah lainnya setelah Selat Hormuz, sehingga menambah gangguan di pasar minyak mentah.
Kondisi itu mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah.
"Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.610-Rp17.650," ujarnya. (Mohammad Yudha Prasetya/VIVA/nsi)
Load more