ICA-CEPA Masuk Tahap Implementasi, Airlangga Bidik Lonjakan Ekspor RI ke Kanada hingga US$11,8 Miliar
- Kemenko Perekonomian
Jakarta, tvOnenews.com — Indonesia mulai menggeser fokus hubungan dagang dengan Kanada dari sekadar penyelesaian perjanjian menuju tahap yang lebih konkret, yaitu implementasi.
Pemerintah menilai Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) dapat menjadi pintu baru bagi perluasan ekspor Indonesia sekaligus memperkuat posisi ekonomi nasional di kawasan Amerika Utara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membahas kesiapan tersebut saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Internasional Kanada The Honourable Maninder Sidhu di sela-sela rangkaian Canada Investment Summit di Toronto.
Pertemuan berlangsung ketika hubungan ekonomi Indonesia-Kanada memasuki fase penting.
Setelah melalui proses penandatanganan dan ratifikasi, kedua negara kini bersiap menuju implementasi ICA-CEPA yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun ini.
Momentum tersebut dinilai penting mengingat perdagangan bilateral Indonesia-Kanada terus menunjukkan pertumbuhan.
Airlangga menyampaikan rata-rata perdagangan kedua negara tumbuh 9,13 persen per tahun sejak 2021.
Pada Semester I-2025, total perdagangan Indonesia dan Kanada tercatat mencapai US$3,1 miliar.
Angka tersebut meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pemerintah melihat ruang ekspansi yang jauh lebih besar setelah ICA-CEPA berlaku penuh.
Melalui perjanjian tersebut, lebih dari 90 persen pos tarif Kanada untuk produk Indonesia akan dihapus atau diturunkan. Indonesia sendiri akan melakukan langkah serupa terhadap hampir 86 persen pos tarif produk Kanada.
Dampaknya diharapkan tidak berhenti pada peningkatan nilai perdagangan saat ini. Ekspor Indonesia ke Kanada diproyeksikan dapat mencapai US$11,8 miliar pada 2030 seiring implementasi penuh ICA-CEPA.
Perjanjian ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas penetrasi produk dan investasi pada sejumlah sektor strategis. Di antaranya hilirisasi mineral kritis, energi bersih, agri pangan dan perikanan berkelanjutan, infrastruktur, hingga jasa keuangan dan digital.
ICA-CEPA menjadi semakin strategis karena merupakan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif pertama Indonesia dengan negara di kawasan Amerika Utara.
Perjanjian tersebut telah ditandatangani Menteri Perdagangan dan disaksikan kepala negara kedua negara pada September 2025.
Dengan posisi Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, implementasi ICA-CEPA juga tidak hanya berkaitan dengan hubungan bilateral.
Pemerintah melihat Indonesia dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi Kanada untuk memperluas keterlibatan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik dan membangun jaringan perdagangan yang lebih luas dengan negara-negara ASEAN.
Karena itu, tantangan terbesar kini bukan lagi sekadar menyelesaikan perjanjian, melainkan memastikan pelaku usaha mampu memanfaatkan akses pasar yang telah dibuka.
Airlangga dan Maninder Sidhu sepakat untuk menyelesaikan sejumlah persoalan yang berpotensi menghambat implementasi ICA-CEPA.
Tantangan tersebut mencakup penyesuaian persyaratan standardisasi, praktik keberlanjutan dan ketenagakerjaan, peningkatan kapasitas UMKM, hingga penguatan infrastruktur logistik dan fasilitasi perdagangan Indonesia.
Pemerintah menilai aspek tersebut menjadi penting agar penurunan tarif tidak hanya menghasilkan keuntungan di atas kertas, tetapi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi peningkatan ekspor dan peluang usaha bagi pelaku ekonomi di kedua negara.
Ke depan, kedua negara akan memusatkan kerja sama pada langkah-langkah konkret untuk menjalankan ICA-CEPA. Salah satu fokusnya adalah mempercepat dialog mengenai kerja sama mineral kritis serta memperkuat kerja sama teknis ekonomi.
“Pertemuan hari ini menegaskan komitmen bersama Indonesia dan Kanada untuk memastikan ICA-CEPA benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha di kedua negara,” tutup Airlangga.
Dalam pertemuan tersebut, Airlangga didampingi Duta Besar Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Pambudi, serta Konsul Jenderal Indonesia di Toronto Vevie Damayanti. (agr/nsi)
Load more