Lima Tahun Merger Pelindo, Standardisasi Jadi Kunci Efisiensi
- Tim tvone - tim tvone
“Efisiensi dari sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar struktur biaya industri tetap kompetitif,” katanya.
Lima tahun setelah merger Pelindo, standardisasi layanan terminal petikemas dinilai menunjukkan perkembangan positif. Namun, penyamaan sistem dan proses bisnis belum sepenuhnya membuat kualitas layanan seluruh terminal Pelindo menjadi seragam.
Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, mengatakan merger Pelindo telah mendorong standardisasi pengelolaan terminal secara lebih terpusat. Hal itu terlihat dari penyelarasan proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System (TOS), hingga indikator kinerja terminal.
“Standardisasi layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat. Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah terstandarisasi secara terpusat,” kata Saut.
Menurut dia, langkah tersebut menjadi bagian penting dari pembenahan pengelolaan terminal setelah integrasi Pelindo. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan standardisasi tersebut menghasilkan kualitas layanan yang konsisten di lapangan.
“Namun, konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya tercapai. Yang terjadi saat ini adalah segmented consistency, konsisten di dalam tier masing-masing, tetapi belum homogen secara nasional,” ujarnya.
Kondisi tersebut perlu dilihat dari karakteristik masing-masing terminal yang dikelola Pelindo. Tidak semua terminal memiliki kondisi geografis, peralatan, karakteristik kapal, dan dukungan hinterland yang sama.
“Terminal di wilayah sungai pasang-surut seperti Musi, Barito, atau Kapuas memiliki tidal window yang membatasi konsistensi kedatangan dan keberangkatan kapal. Ini berbeda dengan pelabuhan laut dalam,” jelasnya.
Menurut Saut, kondisi geografis tersebut membuat kinerja terminal tidak bisa semata-mata dibandingkan berdasarkan satu indikator produktivitas.Faktor lainnya adalah kesenjangan spesifikasi suprastruktur. Standardisasi TOS, menurut dia, tidak otomatis membuat produktivitas terminal sama apabila peralatan bongkar muat yang digunakan berbeda.
“TOS yang sama jika dijalankan di terminal dengan STS berkecepatan tinggi akan menghasilkan output berbeda dibanding terminal yang hanya mengandalkan HMC tua atau derek kapal,” katanya.
Karena itu, Saut menilai Pelindo perlu memastikan standardisasi juga diikuti dengan peningkatan equipment availability dan keandalan peralatan. “Tingkat kesiapan alat atau equipment availability dan mean time between failures di terminal luar Jawa masih belum merata,” ujarnya. (hen)
Load more