5 Bahaya Narkoba bagi Kesehatan Mental yang Sering Diabaikan, WHO Ungkap Dampaknya Bisa Bertahan Seumur Hidup
- Gambar ilustrasi AI
Menurut WHO, penggunaan narkoba suntik juga meningkatkan risiko penularan HIV dan hepatitis virus, terutama jika pengguna berbagi jarum suntik.
5 Bahaya Narkoba bagi Kesehatan Mental yang Perlu Diwaspadai
1. Memperparah Gangguan Kecemasan dan Depresi
Banyak orang menggunakan narkoba untuk mengurangi stres atau mengatasi kecemasan. Sayangnya, efek tersebut hanya berlangsung sementara.
Dalam jangka panjang, penggunaan narkoba justru meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, serangan panik, bahkan memperburuk kondisi psikologis yang sudah ada sebelumnya. Penelitian menunjukkan gangguan penggunaan zat memiliki hubungan dua arah dengan gangguan mental, sehingga keduanya sering muncul secara bersamaan (*co-occurring disorders*).
2. Meningkatkan Risiko Psikosis dan Skizofrenia
Beberapa jenis narkoba seperti LSD, metamfetamin, ganja berkadar THC tinggi, dan ekstasi diketahui dapat memicu halusinasi, delusi, hingga kehilangan kontak dengan realitas.
WHO dan berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa penggunaan ganja dalam dosis tinggi secara terus-menerus, terutama pada usia remaja, berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan psikotik dan skizofrenia pada individu yang memiliki faktor kerentanan.
Contoh nyata terlihat di beberapa negara maju seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Australia, di mana sejumlah penelitian menemukan peningkatan kasus psikosis pada kelompok pengguna ganja berkadar THC tinggi, khususnya usia muda.
3. Menurunkan Daya Ingat dan Kemampuan Berpikir
Penyalahgunaan narkoba dalam jangka panjang dapat merusak sel saraf otak yang berperan dalam proses belajar, mengingat, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan.
Pengguna metamfetamin (sabu) maupun ekstasi misalnya, sering mengalami penurunan fungsi kognitif sehingga kemampuan belajar dan produktivitas mereka ikut menurun. Kerusakan tersebut bahkan dapat bertahan setelah seseorang berhenti menggunakan narkoba.
4. Menyebabkan Ketergantungan Emosional dan Perubahan Suasana Hati
Karena terus merangsang pelepasan dopamin, pengguna narkoba akhirnya bergantung pada zat tersebut untuk merasakan bahagia.
Ketika efek narkoba menghilang, pengguna dapat mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, mulai dari euforia, mudah marah, cemas, hingga depresi berat. Pada kondisi tertentu, gejala putus zat (withdrawal) bahkan memicu perilaku agresif maupun tindakan yang membahayakan diri sendiri.
5. Memicu Perubahan Perilaku hingga Risiko Bunuh Diri
Load more