Simak Rekomendasi IDAI soal Pola Asuh Anak setelah Viralnya Video Bayi Diberi Telur Mentah
- Pixabay/pexels
Jakarta, tvOnenews.com- Baru-baru ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merespons viralnya video bayi yang diberi makan telur mentah lalu meninggal dunia.
Kasus bayi ini mencuat, setelah adanya kabar di media sosial melalui Threads yang menjelaskan adanya seorang bayi berinisial A dalam kondisi yang membutuhkan bantuan.
Dalam unggahan si pemilik akun @calistaarisha, masyarakat di Surabaya diminta membantu agar bayi A segera memperoleh ruang NICU di RSUD Dr. Soetomo.
Kemudian, muncul kabar bahwa bayi diberi telur mentah tersebut harus dirawat intensif dan berujung meninggal dunia. Peristiwa diduga terjadi, karena ulah sang nenek yang mencekoki bayi A dengan telur mentah.
- Threads/real.ryyn
Melihat kasus tersebut, Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, menyampaikan bahwa orang tua membutuhkan pengetahuan tentang pola asuh dan pola makan pada bayi dan anak-anak.
Hal ini diperlukan untuk mencegah kejadian serupa. Oleh karena itu, ia memberikan informasi terkait rekomendasi pola makan untuk bayi.
"Pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta aspek keamanan yang optimal," jelasnya dalam keterangan yang diterima tvOnenews.com, Selasa (13/10/2026).
Berikut rekomendasi pola makan untuk bayi dari IDAI yang bisa dipahami orang tua di rumah, antara lain:
1. Utamakan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Apabila ASI tidak dapat diberikan, penggunaan susu formula bayi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan indikasi medis.
2. Mulailah MPASI pada usia 6 bulan sebagai rekomendasi umum. Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia 4 bulan berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi.
3. Jangan memberikan MPASI sebelum usia 4 bulan, termasuk telur mentah, telur setengah matang, bubur, atau makanan yang tidak sesuai dengan usia bayi.
4. Hindari pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi atau anak. Pastikan telur dimasak hingga matang.
5. Perhatikan kebersihan dan keamanan pengolahan makanan, termasuk mencuci tangan dan peralatan makan untuk mencegah kontaminasi silang. Simpan telur dengan benar dan hindari telur yang retak atau rusak.
6. Jangan lupa berkonsultasi dengan dokter apabila muncul keraguan mengenai kecukupan ASI, waktu pemberian MPASI, dan kesiapan bayi untuk menerima makanan yang aman.
"IDAI menegaskan bahwa pemberian makan pada bayi harus didasarkan pada prinsip kecukupan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan," pesan dr. Piprim.
Berdasarkan kasus di atas, masyarakat diingatkan oleh IDAI untuk tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak karena berisiko mengandung bakteri Salmonella.
Bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran cerna dengan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi.
"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K). (klw)
Load more