Ngeri! Viral Ikan Asin Diduga Disemprot Cairan Pembasmi Serangga, Ini 5 Risiko Kesehatan jika Dikonsumsi
- Ilustrasi by ChatGPT
tvOnenews.com - Video yang memperlihatkan ikan asin diduga disemprot menggunakan cairan pembasmi serangga atau Baygon saat dijemur viral di media sosial.
Praktik yang dinarasikan dalam unggahan tersebut memicu kekhawatiran warganet mengenai keamanan pangan yang beredar di pasaran.
Video itu dibagikan akun Threads rumpi_gosip dengan keterangan, "Ngeri! Oknum penjual ikan asin tertangkap kamera menggunakan Baygon saat dijemur."
- Threads @rumpi_gosip
Meski demikian, dugaan dalam video viral tersebut perlu diverifikasi lebih lanjut. Belum dapat dipastikan hanya dari unggahan itu apakah cairan yang digunakan benar-benar Baygon, apa kandungannya, serta apakah ikan asin tersebut kemudian dijual dan dikonsumsi masyarakat.
Terlepas dari kasus yang beredar, berikut lima bahaya utama yang perlu diketahui apabila makanan terkontaminasi cairan insektisida.
1. Berisiko menyebabkan keracunan
Insektisida mengandung bahan aktif yang dirancang untuk mengganggu sistem biologis serangga. Jenis bahan aktif dan tingkat bahayanya berbeda-beda, bergantung pada formulasi produk.
Apabila makanan terkontaminasi kemudian dikonsumsi, seseorang berisiko mengalami keracunan.
Gejalanya dapat bervariasi, mulai dari mual, muntah, sakit perut, pusing, hingga gangguan yang lebih serius, tergantung pada jenis zat, jumlah paparan, dan kondisi orang yang terpapar.
2. Dapat mengganggu sistem saraf dan pernapasan
Sebagian insektisida mengandung bahan aktif yang dapat memengaruhi sistem saraf.
Pada paparan tertentu, zat tersebut dapat memicu gejala seperti sakit kepala, pusing, kelemahan, keringat berlebihan, atau gangguan koordinasi.
Pada kasus keracunan yang berat, paparan sejumlah jenis insektisida juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan, kejang, hingga kondisi yang mengancam nyawa.
Risikonya bergantung pada kandungan produk dan besarnya paparan. Oleh sebab itu, tidak tepat menyamaratakan seluruh insektisida memiliki tingkat toksisitas yang sama. Namun, semua produk tersebut harus digunakan sesuai petunjuk label dan tidak boleh disemprotkan ke makanan jika tidak secara khusus diizinkan untuk penggunaan tersebut.
3. Residu kimia berpotensi tertinggal pada ikan asin
Ikan asin umumnya dijemur untuk mengurangi kadar air sehingga lebih awet. Namun, proses pengeringan tidak otomatis menghilangkan seluruh bahan kimia yang mungkin menempel pada permukaan makanan.
Jika ikan asin terkena insektisida, residu dapat tertinggal dengan jumlah yang bergantung pada jenis bahan aktif, formulasi, cara penyemprotan, dan kondisi lingkungan.
Menjemur, mencuci, atau menggoreng ikan asin tidak dapat dijadikan jaminan bahwa residu berbahaya sudah hilang.
4. Paparan berulang dapat meningkatkan risiko kesehatan
Bahaya bahan kimia tidak hanya ditentukan oleh paparan dalam jumlah besar dalam satu waktu.
Pada zat tertentu, paparan berulang juga dapat meningkatkan risiko kesehatan, bergantung pada sifat kimia, dosis, serta lamanya seseorang terpapar.
Konsumen berpotensi tidak menyadari adanya kontaminasi apabila makanan tidak menunjukkan perubahan warna, aroma, atau bentuk yang mencolok.
5. Mengancam keamanan pangan dan kepercayaan konsumen
Penggunaan insektisida secara tidak semestinya pada ikan asin juga menimbulkan persoalan keamanan pangan.
Konsumen berhak memperoleh makanan yang diolah, disimpan, dan dipasarkan dengan cara yang tidak membahayakan kesehatan.
Untuk mencegah kontaminasi serangga, penjual seharusnya menggunakan cara yang aman, seperti memasang jaring pelindung, menjaga kebersihan tempat penjemuran, serta menyimpan ikan asin dalam wadah tertutup yang sesuai untuk pangan.
Pada akhirnya, video viral tersebut menjadi pengingat bahwa bahan pembasmi serangga tidak boleh digunakan sembarangan pada makanan. (asl)
Load more