Perawat Dialisis Kembangkan Terapi Nonfarmakologis untuk Kurangi Penggunaan Obat Nyeri
- tim tvOne
Surabaya, tvOnenews.com – Inovasi pelayanan keperawatan terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan terapi nonfarmakologis sebagai alternatif pendukung untuk mengurangi penggunaan obat pereda nyeri.
Inovasi tersebut menjadi salah satu gagasan yang diperkenalkan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional (PITNAS) XXXIV Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) di Surabaya. Pengembangan terapi nonfarmakologis ini berangkat dari upaya mengurangi beban pengobatan pasien, terutama penggunaan obat-obatan tertentu yang perlu diperhatikan pada penderita gangguan ginjal.
Salah satu pengembang inovasi, Heri Prasetyaningrum, menjelaskan bahwa gagasan tersebut sebelumnya dikembangkan melalui karya ilmiah di tingkat Jawa Barat. Inovasi itu kemudian memperoleh penghargaan dalam ajang pemerintah daerah.
Heri menilai, inovasi dalam pelayanan dialisis penting dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap terapi pengganti ginjal. Menurutnya, pendekatan pelayanan tidak cukup hanya berfokus pada tindakan medis, tetapi juga perlu mempertimbangkan upaya meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien.
"Jadi penyakit dialisis itu kan penyakit yang mengancam nyawa dan sudah ada mitos-mitos kalau nanti meninggal, tapi pasiennya meningkat terus. menurutnya, untuk mencegahnya harus diciptakan satu upaya salah satunya yang kami inovasikan adalah untuk mengurangi beban masyarakat, kami mengurangi penggunaan obat nyeri sehingga bisa digantikan dengan terapi Novacologis mengurangi beban ginjal masyarakat di tingkat karya ilmiah jawa barat, kemudian kami majukan ke tingkat pemda dan mendapatkan piagam inovasi dan juara 2 kabupaten bekasi. mudah-mudahan ini berguna bagi masyarakat dan diketahui lebih luas, ia juga berpesan, jangan selalu sembarangan dengan obat," pungkasnya.
Pengembangan inovasi tersebut sejalan dengan tujuan PITNAS XXXIV IPDI yang menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengembangan kompetensi perawat dialisis dari berbagai rumah sakit.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga didorong menghasilkan karya ilmiah berupa inovasi maupun perbaikan sistem pelayanan kesehatan. Salah satunya melalui lomba karya ilmiah yang menjadi bagian dari rangkaian pertemuan.
"Jadi dalam makna ilmiah ini seluruh perawat dari berbagai rumah sakit, kami ditantang untuk menciptakan karya ilmiah salah satunya berupa inovasi dan perbaikan pelayanan bagi masyarakat ini salah satunya ada lomba karya ilmiah," ujarnya.
PITNAS XXXIV IPDI tahun ini mengangkat tema "Elevating Dialysis Nursing: Integrity, Science, and Technology in Dialysis Services". Kegiatan tersebut diikuti 1.527 peserta dari berbagai rumah sakit.
Ketua Pengurus Pusat IPDI, Muhammad Syamsul Bakhri, S.Kep., Ns., mengatakan perawat dialisis memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan terapi pengganti ginjal, khususnya hemodialisis. Tanggung jawab tersebut meliputi keterampilan teknis, pemantauan kondisi pasien, pencegahan komplikasi, hingga penerapan standar keselamatan pasien.
Menurutnya, pelayanan hemodialisis membutuhkan perhatian khusus karena dalam satu sesi tindakan dapat berlangsung sekitar lima hingga enam jam. Durasi tersebut menuntut ketersediaan tenaga keperawatan yang memadai agar kondisi pasien dapat dipantau secara optimal.
IPDI menggunakan rasio satu perawat untuk tiga tindakan dalam satu sesi sebagai salah satu acuan pelayanan. Pengaturan beban kerja ini dinilai penting untuk menjaga kualitas pemantauan dan keselamatan pasien selama menjalani dialisis.
Melalui forum ilmiah tersebut, berbagai inovasi keperawatan diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan dalam pelayanan kesehatan. Upaya ini menjadi bagian dari peningkatan mutu layanan bagi pasien penyakit ginjal kronis, baik dari aspek keselamatan, kenyamanan, maupun kualitas hidup. (gol)
Load more